| Ilustrasi Visual Digital |
Sahabat Madura yang dirahmati Allah, pada catatan sebelumnya kita telah mengulas sekilas tentang perjalanan agung Sang Nabi beserta tanda-tanda kerasulannya. Melanjutkan lembaran hikmah tersebut, kali ini kita akan menyelami kisah spiritual dari seorang ulama sufi terkemuka, yaitu Syeikh Hasan Basri. Mari kita simak bersama-sama untaian kisahnya yang penuh teladan ini.
Berdasarkan lembaran sejarah, Syeikh Hasan Basri pada masa mudanya merupakan seorang saudagar permata yang sukses. Keahliannya dalam menilai keindahan batu mulia membuat beliau masyhur dengan julukan "Hasan Si Pedang Mutiara". Jaringan bisnisnya terbentang luas hingga ke wilayah Bizantium (Romawi), membuat beliau sangat akrab dengan berbagai kalangan terpandang, mulai dari para jenderal perang hingga jajaran menteri kekaisaran.
Suatu hari, ketika sedang melakukan perjalanan bisnis ke Bizantium, Hasan Basri menyempatkan diri untuk bersilaturahmi ke kediaman perdana menteri setempat. Di tengah perbincangan hangat mereka, sang menteri memberikan sebuah tawaran, "Jika Anda berkenan, mari ikut bersamaku ke suatu tempat yang istimewa."
Hasan Basri menjawab dengan ramah, "Ke mana pun engkau melangkah, aku akan mengikutimu." Menteri kemudian memerintahkan pelayan untuk menyiapkan seekor kuda tunggangan yang gagah untuk Hasan Basri. Keduanya lalu berkuda berdampingan membelah keheningan padang pasir.
Sesampainya di tujuan, pandangan Hasan Basri tertuju pada sebuah pemandangan yang tidak biasa. Di tengah hamparan pasir, berdiri sebuah tenda megah yang terbuat dari kain brokat khas Bizantium. Tenda tersebut terikat kuat oleh tali-tali sutra dan ditopang oleh tiang-tiang emas yang menancap kokoh di atas tanah.
Hasan Basri memilih untuk mengamati dari kejauhan. Tak berselang lama, suasana hening pecah oleh kedatangan sepasukan tentara berwajah perkasa dengan baju zirah dan senjata yang sangat lengkap. Mereka berbaris rapi mengitari tenda tersebut, menggumamkan beberapa patah kata dengan khidmat, lalu beranjak pergi.
Setelah pasukan tentara berlalu, muncul rombongan kedua yang terdiri dari para filosof dan cendekiawan berotak cemerlang, yang jumlahnya hampir mencapai empat ratus orang. Sama seperti kelompok pertama, mereka berjalan mengelilingi tenda, mengucapkan kalimat-kalimat tertentu, kemudian membubarkan diri.
Kejutan belum selesai. Berikutnya, datanglah iring-iringan lebih dari dua ratus gadis belia berwajah rupawan. Masing-masing dari mereka membawa nampan yang sarat dengan tumpukan emas, perak, dan batu-batu permata yang berkilauan. Mereka berjalan mengitari tenda sembari mengumandangkan untaian kalimat penuh penghormatan, lalu melangkah pergi.
Menyaksikan ritual yang asing dan penuh kemewahan tersebut, Hasan Basri merasa sangat heran dan bertanya-tanya dalam hati tentang makna di balik semua kejadian itu. Ketika mereka bersiap untuk kembali, Hasan Basri langsung menanyakan hal tersebut kepada sang perdana menteri.
Dengan nada suara yang berat, menteri itu mulai bercerita, "Ketahuilah wahai Sahabatku, dahulu Kaisar kami dikaruniai seorang putra mahkota yang sangat tampan, cerdas tiada tanding dalam berbagai ilmu, dan sangat gagah berani di medan laga. Kaisar dan seluruh rakyat kerajaan ini begitu mencintai sang pangeran. Namun, takdir berkata lain. Suatu hari, sang pangeran jatuh sakit secara mendadak. Seluruh tabib terbaik di seantero negeri dikerahkan, namun tak satu pun yang mampu menolak takdir kematian. Pangeran muda itu mengembuskan napas terakhirnya, dan di bawah tenda itulah jasadnya kini bersemayam."
Menteri itu melanjutkan, "Sejak saat itu, setiap tahun orang-orang akan datang berziarah ke makam ini dengan ritual yang baru saja engkau saksikan.
Pasukan tentara yang datang pertama kali itu sebenarnya datang untuk berkata kepada ruh sang pangeran: 'Wahai putra mahkota, andai saja petaka yang merenggut nyawamu ini berupa musuh di medan perang, kami semua pasti akan mempertaruhkan jiwa dan raga ini demi menyelamatkanmu. Namun, ajal yang menjemputmu ini datang dari Penguasa yang tidak mungkin kami perangi dan tidak mampu kami tantang.' Setelah berkata demikian, mereka pun pergi.
Lalu giliran para filosof yang maju dan berkata: 'Musibah yang menimpamu ini datang dari Dzat yang tidak bisa kami kelabui dengan ilmu pengetahuan, filsafat, maupun tipu muslihat. Sebab, seluruh pemikir di muka bumi ini menjadi tidak berdaya di hadapan-Nya. Andai kematian bisa dicegah dengan argumen, kami pasti sudah menyusun dalil terbaik yang tidak terpatahkan di alam semesta ini.' Mereka pun kemudian melangkah mundur.
Selanjutnya, giliran para sesepuh dan tokoh masyarakat yang bijak tampil ke depan seraya berucap: 'Wahai pangeran tercinta, andai saja kepergianmu ini bisa dicegah melalui perantara orang-orang tua, tentu kami telah mengetuk pintu langit dengan doa-doa kami yang paling khusyuk agar engkau tidak sendirian di tempat yang sunyi ini. Namun, ketetapan ini datang dari Dia yang tidak bisa diubah oleh permohonan manusia yang lemah.'
Terakhir, rombongan gadis-gadis jelita pembawa harta karun mendekat dan berkata: 'Wahai putra Kaisar, seandainya kematianmu bisa ditebus dengan tumpukan harta benda dan pesona kecantikan, kami dengan sukarela menyerahkan diri serta seluruh kekayaan ini demi menghidupkanmu kembali. Namun, ketetapan ini diturunkan oleh Dzat yang tidak mempan disuap oleh materi maupun keindahan fisik.'
Pada puncaknya, Sang Kaisar sendiri bersama aku selaku menterinya akan masuk ke dalam tenda. Kaisar akan memeluk pusara itu dan meratap pilu: 'Wahai buah hatiku, pelita jiwa dan cahaya mata ayahanda! Wahai buah hati ayahanda! Apa lagi yang bisa dilakukan oleh ayahmu yang lemah ini? Ayah telah mendatangkan pasukan terkuat, para pemikir tercerdas, dan segala kemewahan duniawi untukmu. Namun, takdir ini datang dari Penguasa Agung yang tidak bisa dilawan oleh kekuasaan raja, bala tentara, pengawal, maupun seluruh harta di kerajaan ini. Semoga engkau damai di sana, selamat tinggal anakku, sampai jumpa di tahun yang akan datang.' Setelah ucapan perpisahan itu, Kaisar pun melangkah pergi."
Mendengar penuturan yang luar biasa dari perdana menteri tersebut, seketika hati Hasan Basri bergetar hebat. Kesadaran spiritualnya bangkit. Beliau menyadari betapa fana dan tidak berdayanya manusia di hadapan maut dan kekuasaan Allah Subhanahu Wata'ala. Tanpa menunda waktu, beliau segera mengemas barang-barang bawananya dan bergegas kembali ke tanah airnya.
Sesampainya di kota Basrah, Hasan Basri membulatkan tekad dan bersumpah di hadapan Allah bahwa beliau tidak akan lagi tertawa terbahak-bahak di dunia ini, sebelum beliau mengetahui dengan pasti bagaimana nasib akhiratnya kelak. Sejak momen hijrah tersebut, beliau menghabiskan seluruh sisa usianya untuk fokus beribadah, mendekatkan diri kepada Allah, dan menjalani disiplin spiritual yang sangat ketat, hingga menjelma menjadi salah satu tokoh sufi dan ulama paling dihormati sepanjang sejarah Islam.
Sahabat Madura yang budiman, demikianlah sekilas fragmen kehidupan Syeikh Hasan Basri dalam menemukan jalan hidayahnya. Semoga kisah penuh ibrah (pelajaran) ini mampu mengetuk pintu hati kita semua agar senantiasa mengingat kematian dan mempersiapkan bekal terbaik menuju akhirat. Semoga tulisan ini membawa berkah dan manfaat bagi kita semua. Amin Ya Rabbal Alamin. Sampai jumpa di artikel penuh hikmah berikutnya!
والله أعلمُ بالـصـواب
Postingan Berikutnya : Sejarah lengkap Nabi Adam Alaihissalam Dan Ibu Hawa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar