السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Halo sahabat pembaca setia Oreng Madura, apa kabar Anda hari ini ? Semoga untaian selawat dan salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita, dan semoga Anda semua yang sedang berkunjung ke situs orengmadureh.com selalu berada dalam lindungan Allah subhanahu wa taala, dimudahkan rezekinya, serta diberkahi keluarganya.
Setelah pada catatan sebelumnya kita telah memetik hikmah mendalam dari keteguhan Nabi Idris alaihis salam, kali ini kita akan melangkah lebih jauh menyusuri lorong waktu sejarah Islam. Kita akan mengupas tuntas riwayat hidup Nabi Nuh alaihis salam. Beliau adalah sosok rasul tangguh yang menghadapi badai ujian luar biasa, mulai dari penolakan kaumnya yang keras kepala, mukjizat pembuatan perahu raksasa, hingga duka mendalam saat menyaksikan air bah menenggelamkan keluarganya sendiri yang ingkar. Yuk, kita sediakan waktu sejenak untuk membaca coretan sejarah ini demi mempertebal iman dan takwa di hati kita masing-masing.
ilustrasi visual digital
1. Silsilah dan Masa Awal Dakwah Nabi Nuh alaihis salam
Nabi Nuh alaihis salam adalah keturunan kesembilan dari Nabi Adam alaihis salam. Beliau diutus oleh Allah subhanahu wa taala pada masa ketika bumi mulai dipenuhi oleh kesyirikan dan penyembahan berhala untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia. Kaum Nabi Nuh menyembah berhala-berhala besar yang mereka namai Wadd, Suwa', Yagus, Ya'uq, dan Nasr.
Beliau diutus dengan tugas berat untuk mengembalikan umatnya pada ajaran tauhid. Dengan penuh kesabaran, kelembutan, dan kegigihan, Nabi Nuh alaihis salam berdakwah siang dan malam, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Namun, mayoritas kaumnya yang sombong justru menutup telinga, mengejek, bahkan mengancam akan merajam beliau jika tidak menghentikan dakwahnya.
2. Kesabaran Luar Biasa Selama 950 Tahun
Salah satu keistimewaan terbesar Nabi Nuh alaihis salam yang menjadikannya termasuk dalam golongan rasul Ulul Azmi adalah tingkat kesabarannya yang tidak bertepi. Beliau berdakwah di tengah-tengah kaumnya selama kurang lebih 950 tahun! Angka yang sangat fantastis untuk menguji keteguhan hati seorang utusan Allah. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam Al-Qur'an Surah Al-Ankabut ayat 14.
Meskipun berdakwah hampir seribu tahun lamanya, jumlah manusia yang mau beriman dan mengikuti ajaran beliau sangat sedikit, diperkirakan hanya sekitar 80 orang saja. Mereka yang beriman pun rata-rata adalah kaum dhuafa dan masyarakat kelas bawah, sementara kaum bangsawan dan orang kaya memilih untuk tetap menyembah berhala dan terus-menerus menghina Nabi Nuh alaihis salam.
Keistimewaan Nabi Nuh sebagai Rasul pertama yang diutus ke bumi juga disebutkan dalam sebuah Hadis Sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, di mana kelak di padang mahsyar manusia akan mendatangi beliau dan berkata :
"Wahai Nuh, engkau adalah rasul pertama yang diutus ke penduduk bumi, dan Allah telah menyebutmu sebagai hamba yang banyak bersyukur." (HR. Bukhari no. 4712 dan Muslim no. 194)
3. Meluruskan Isu Palsu : Siapa "Raksasa" yang Membuat Bahtera ?
Dalam beberapa cerita rakyat atau kisah yang kurang sahih, sering kali muncul isu palsu bahwa pembuatan kapal Nabi Nuh dibantu oleh makhluk raksasa asing purba yang bernama 'Auj bin 'Unuq. Para ulama tafsir besar, seperti Imam Ibnu Katsir, telah menegaskan bahwa cerita keterlibatan raksasa luar tersebut adalah fiktif dan tidak memiliki dasar dalil sama sekali.
Faktanya, yang benar-benar menjadi "raksasa" saat itu adalah Nabi Nuh alaihis salam dan kaumnya sendiri! Kita harus tahu bahwa postur tubuh manusia di zaman purba dahulu jauh berbeda dengan umat Nabi Muhammad atau manusia modern zaman sekarang. Berdasarkan Hadis Sahih riwayat Imam Bukhari, Nabi Adam alaihis salam diciptakan dengan tinggi 60 hasta (sekitar 30 meter), dan setelah itu fisik manusia berangsur-angsur mengecil dari generasi ke generasi.
Jadi, bagi ukuran manusia zaman sekarang, Nabi Nuh alaihis salam dan para pengikutnya memang memiliki tubuh yang sangat tinggi besar dan sangat kuat. Berbekal kekuatan fisik yang luar biasa dari Allah itulah, Nabi Nuh dan kaum yang beriman bergotong-royong memeras keringat menebang pohon raksasa dan merakit bahtera tersebut, tanpa bantuan makhluk mistis apa pun.
4. Mukjizat Pembuatan Bahtera Raksasa di Atas Bukit
Melihat kaumnya yang sudah dikunci mati hatinya dari kebenaran dan terus-menerus menantang datangnya azab, Nabi Nuh alaihis salam akhirnya berdoa kepada Allah agar bumi dibersihkan dari orang-orang kafir. Allah subhanahu wa taala mengabulkan doa tersebut dan memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat sebuah bahtera (kapal) yang sangat besar di bawah pengawasan wahyu-Nya. Kisah perintah pembuatan kapal ini diabadikan dalam Al-Qur'an Surah Hud ayat 36-37:
وَأُوحِيَ إِلَىٰ نُوحٍ أَنَّهُ لَنْ يُؤْمِنَ مِنْ قَوْمِكَ إِلَّا مَنْ قَدْ آمَنَ فَلَا تَبْتَئِسْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ . وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلَا تُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُوا ۚ إِنَّهُمْ مُغْرَقُونَ
"Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya : 'Tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan. Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan'." (QS. Hud : 36-37)
Perintah ini mendatangkan hinaan yang semakin menjadi-jadi dari kaumnya. Mereka menganggap Nabi Nuh sudah kehilangan akal karena membuat kapal raksasa di tempat yang tidak ada airnya sama sekali. Namun, dengan panduan wahyu dan bantuan para pengikutnya yang setia, Nabi Nuh terus memotong kayu dan merakit kapal tersebut hingga selesai dengan sempurna sebagai persiapan menyambut perintah Allah.
5. Peristiwa Banjir Besar dan Pembangkangan Sang Anak
Ketika hari yang dijanjikan tiba, tanda-tanda azab mulai muncul. Allah subhanahu wa taala memerintahkan air memancar dahsyat dari dalam bumi dan langit menurunkan hujan yang sangat lebat tanpa henti. Nabi Nuh alaihis salam segera menginstruksikan para pengikutnya naik ke atas kapal, beserta sepasang-sepasang dari setiap jenis hewan jantan dan betina agar kelak kelestarian makhluk hidup tetap terjaga.
Banjir bandang naik dengan sangat cepat hingga menenggelamkan daratan dan gunung-gunung tinggi. Di tengah ombak yang menggulung, Nabi Nuh melihat putranya sendiri, Kan'an, yang menolak naik ke kapal dan memilih berlari ke puncak gunung. Nabi Nuh memanggilnya dengan penuh kasih sayang, namun Kan'an tetap ingkar hingga akhirnya ia digulung ombak besar dan tenggelam bersama kaum durhaka lainnya. Istri Nabi Nuh yang berkhianat pun turut binasa dalam peristiwa mengerikan ini. Kisah sedih ini diabadikan dalam Al-Qur'an surah Hud :
قَالَ سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ ۚ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَن رَّحِمَ ۚ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ
"Anaknya menjawab : 'Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!' Nuh berkata : 'Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah Yang Maha Penyayang.' Dan gelombang memisahkan antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan." (QS. Hud : 43)
Setelah seluruh orang kafir binasa, Allah memerintahkan bumi menelan airnya dan langit menghentikan hujannya. Bahtera Nabi Nuh akhirnya terdampar dengan selamat di atas Gunung Judi, dan mulailah kehidupan baru yang bersih dari kesyirikan di bawah bimbingan Nabi Nuh alaihis salam.
Kesimpulan dan Hikmah yang Dapat Kita Petik
Melalui rekam jejak perjuangan Nabi Nuh alaihis salam, ada poin penting yang bisa kita petik sebagai bekal refleksi diri di era modern ini :
- Ketabahan Tanpa Tepi : Mengajarkan kita bahwa keberhasilan sebuah perjuangan tidak melulu diukur dari banyaknya pengikut, melainkan dari seberapa setianya kita bertahan di jalan kebaikan.
- Hidayah itu Mahal : Kenyataan bahwa anak dan istri seorang nabi bisa terasing dari keselamatan menjadi bukti nyata bahwa hidayah sepenuhnya adalah otoritas Allah yang harus kita jaga.
- Berpikir Jauh ke Depan : Sikap patuh membangun kapal di musim kering mengajarkan kita untuk selalu bersiap diri menghadapi masa depan, meski lingkungan sekitar mencibir langkah kita.
Demikianlah ulasan mendalam mengenai sejarah besar Nabi Nuh alaihis salam. Semoga coretan sederhana di blog Oreng Madura ini bisa menambah wawasan keagamaan sekaligus mempererat tali silaturahmi kita semua di jagat maya.
Bagaimana tanggapan Anda setelah membaca detail ketangguhan fisik dan mental kaum terdahulu dalam menghadapi ujian air bah ini ? Mari kita hidupkan ruang diskusi yang sehat pada kolom komentar di bawah ini. Jangan lupa untuk membagikan tautan tulisan ini ke media sosial Anda agar kebaikan ini terus berputar. Sampai jumpa pada pembahasan menarik lainnya!
وَاللَّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar