Kamis, 09 Juli 2026

Mengenal Nabi Syits alaihi salam : Sosok Nabi di Balik 25 Nama yang Wajib Diimani

 السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Selamat datang kembali di Orengmadureh.com. Senang sekali bisa berbagi pengetahuan yang mencerahkan dan bermanfaat bagi kita semua. Pada kesempatan yang penuh berkah ini, kita akan mengulas sosok mulia yang sering terlewatkan dalam diskusi sejarah kenabian kita, yaitu Nabi Syits alaihi salam. Sering kali muncul pertanyaan di masyarakat, mengapa nama beliau tidak tercantum dalam daftar 25 Nabi dan Rasul yang wajib kita ketahui? Mari kita telusuri fakta-faktanya dengan berpegang pada sumber ilmu yang sahih.

Ilustrasi Visual Digital

Secara silsilah, Nabi Syits alaihi salam memiliki kedudukan yang sangat dekat dengan sumber kehidupan manusia. Beliau adalah putra kandung dari Nabi Adam alaihi salam dan Siti Hawa. Nabi Syits alaihi salam lahir setelah peristiwa besar di masa awal kehidupan manusia, yakni sebagai anugerah pengganti dari Allah Subhanahu wa ta'ala setelah wafatnya Habil. Nama "Syits" sendiri memiliki arti "Hibah dari Allah Subhanahu wa ta'ala". Dengan demikian, silsilah beliau adalah Syits bin Adam alaihi salam.

Bagaimana bentuk perjuangan Nabi Syits alaihi salam? Berbeda dengan nabi-nabi di zaman berikutnya yang sering menghadapi peperangan fisik dalam membela agama, perjuangan Nabi Syits alaihi salam di masa awal peradaban manusia lebih bercorak pada dakwah edukatif dan pembangunan tatanan masyarakat. Setelah Nabi Adam alaihi salam wafat, Nabi Syits alaihi salam memikul tanggung jawab besar untuk menjaga keturunan Nabi Adam alaihi salam agar tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan. Beliau mengajarkan syariat dasar, membangun sistem pertanian, dan tata cara kehidupan sosial yang berlandaskan tauhid. Perjuangan beliau adalah perjuangan melawan kebodohan dan menjaga "api" tauhid agar tetap menyala di tengah keturunan manusia yang mulai berpencar. Beliau menjadi penengah bagi perselisihan yang terjadi di antara keturunan Nabi Adam alaihi salam, memastikan keadilan tegak, dan membimbing mereka untuk selalu beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.

Perlu kita luruskan pemahaman melalui ilmu tauhid, sebagaimana yang diajarkan dalam kitab-kitab akidah seperti Aqidatul Awam. Ada perbedaan mendasar antara seorang Nabi dan seorang Rasul:

- Nabi adalah seseorang yang menerima wahyu dari Allah Subhanahu wa ta'ala untuk dirinya sendiri dan tidak diperintahkan untuk menyampaikannya kepada umat.

- Rasul adalah seseorang yang menerima wahyu dari Allah Subhanahu wa ta'ala dan memiliki kewajiban untuk menyampaikan syariat tersebut kepada umatnya.

Mungkin pembaca bertanya, mengapa dalam Aqidatul Awam dan kitab-kitab dasar tauhid hanya disebutkan 25 nama Nabi dan Rasul saja? Jawabannya adalah karena 25 nama tersebut adalah utusan-utusan Allah Subhanahu wa ta'ala yang dikisahkan secara rinci di dalam Al-Qur'an. Mereka dipilih sebagai model utama karena kisah hidup mereka mengandung pelajaran (ibrah) paling lengkap tentang kesabaran, kepemimpinan, dan keteguhan iman yang sangat dibutuhkan oleh umat manusia di sepanjang zaman. Bukan berarti Nabi yang lain tidak mulia, melainkan 25 nama inilah yang menjadi "rujukan utama" yang wajib diimani secara terperinci (tafshili) oleh setiap muslim.

Jumlah Nabi dan Rasul yang diutus Allah Subhanahu wa ta'ala sebenarnya jauh lebih banyak. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah menjelaskan jumlah mereka secara rinci ketika ditanya oleh sahabat Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu anhu:

يَا رَسُولَ اللَّهِ كَمِ الْأَنْبِيَاءُ قَالَ مِائَةُ أَلْفٍ وَأَرْبَعَةٌ وَعِشْرُونَ أَلْفًا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَمِ الرُّسُلُ مِنْ ذَلِكَ قَالَ ثَلَاثُمِائَةٍ وَثَلَاثَةَ عَشَرَ جَمٌّ غَفِيرٌ

"Wahai Rasulullah, berapakah jumlah para Nabi? Beliau menjawab: 124.000 Nabi. Aku bertanya lagi: Berapa jumlah Rasul di antara mereka? Beliau menjawab: 313, sebuah jumlah yang besar." (HR. Ahmad).

Angka 124.000 Nabi menunjukkan betapa besarnya kasih sayang Allah Subhanahu wa ta'ala dalam membimbing umat manusia di setiap zaman. Nabi Syits alaihi salam adalah salah satu dari 124.000 Nabi tersebut. Jika beliau seorang Nabi namun namanya tidak masuk dalam 25 daftar yang wajib kita hafal, hal ini dikarenakan Allah Subhanahu wa ta'ala hanya mengisahkan sebagian kecil utusan-Nya di dalam Al-Qur'an. Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلًا لَمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ ۚ وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا

"Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu sebelumnya, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung." (QS. An-Nisa': 164).

Nabi Syits alaihi salam menerima 50 shuhuf (lembaran wahyu) dari Allah Subhanahu wa ta'ala. Beliau mengajarkan kepada keturunan Nabi Adam alaihi salam tentang cara bertani, membangun kehidupan yang harmonis, dan yang terpenting adalah menjaga kemurnian iman kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.

Dari kisah Nabi Syits alaihi salam ini, kita mengambil hikmah yang sangat dalam: bahwa kemuliaan seorang hamba tidak diukur dari seberapa sering namanya disebut atau apakah ia termasuk dalam daftar yang populer. Kemuliaan yang hakiki terletak pada ketaatan dalam menjalankan tugas dari Allah Subhanahu wa ta'ala, sekecil atau sebesar apa pun peran yang diberikan. 

Mari kita jadikan kisah ini sebagai pelajaran agar kita tetap istiqamah dalam iman, meski dalam sunyinya tugas yang kita jalankan. Semoga pembahasan ini menambah wawasan kita serta mempertebal kecintaan kita kepada utusan-utusan Allah Subhanahu wa ta'ala.

وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Tidak ada komentar:

Buka Iklan