| Ilustrasi Visual Digital |
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Sahabat Madura yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta'ala, setelah pada catatan sebelumnya kita mengulas tentang sejarah perjuangan Nabi Yusuf Alaihi Salam, kali ini kita akan menyelami lembaran hikmah dari kisah keteladanan Nabi Ayyub Alaihisalam. Beliau adalah seorang utusan Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang sejarah hidupnya menjadi lambang puncak kesabaran dan keteguhan iman yang tiada tanding di muka bumi. Mari kita simak runtutan kisahnya secara lengkap dan berurutan dari awal mula beliau diuji hingga meraih kemuliaan kembali.
Pada masa awal kenabiannya, Nabi Ayyub Alaihisalam dikenal sebagai seorang nabi yang sangat kaya raya. Beliau memiliki tanah perkebunan yang sangat luas, ribuan hewan ternak yang melimpah, serta dikaruniai keturunan berupa anak-anak yang saleh dan saleha. Meskipun bergelimang harta dan kemewahan, Nabi Ayyub Alaihisalam sama sekali tidak sombong. Beliau justru sangat dermawan, gemar menyantuni anak yatim, membantu orang miskin, dan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk beribadah dan bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Kemuliaan iman Nabi Ayyub Alaihisalam ini membuat iblis merasa dengki. Iblis kemudian memohon izin kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk menguji kesetiaan iman beliau. Ujian berat pun dimulai. Pertama-tama, seluruh harta kekayaan Nabi Ayyub Alaihisalam lenyap seketika; perkebunannya terbakar dan hewan-hewan ternaknya mati mendadak. Tidak lama berselang, ujian kedua datang menghantam ketika rumah tempat tinggal mereka runtuh akibat gempa bumi, merenggut nyawa seluruh putra dan putri tercintanya.
Meskipun kehilangan harta dan anak dalam waktu singkat, Nabi Ayyub Alaihisalam tidak mengeluh sedikit pun. Beliau tetap bersujud dan bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, meyakini bahwa segala yang ada di dunia ini hanyalah titipan-Nya semata.
Melihat keteguhan tersebut, iblis tidak menyerah dan kembali mendatangkan ujian ketiga berupa penyakit fisik yang sangat parah. Sekujur tubuh Nabi Ayyub Alaihisalam dipenuhi oleh kudis dan penyakit kulit yang mengeluarkan aroma tidak sedap. Karena penyakitnya yang menahun, masyarakat sekitar mulai menjauh karena merasa jijik dan takut tertular. Akibatnya, Nabi Ayyub Alaihisalam bersama istrinya yang sangat setia, Rahma, terpaksa diasingkan ke sebuah gubuk kecil yang sunyi di pinggiran kota.
Selama bertahun-tahun dalam pengasingan tersebut, hanya Rahma lah satu-satunya orang yang dengan sabar merawat, mengurus, dan mencari nafkah demi menyambung hidup mereka berdua. Namun, beratnya penderitaan yang berlangsung sangat lama ini lambat laun mulai memicu kesalahpahaman di antara keduanya.
Suatu hari, karena suatu perkara di tengah rasa sakitnya, Nabi Ayyub Alaihisalam sempat merasa geram atas tindakan istrinya. Dalam puncak kemarahannya, beliau mengucapkan sumpah, "Awas, jika nanti badanku sudah disembuhkan oleh Allah, aku akan mencambukmu sebanyak seratus kali!"
Sambil berurai air mata, Rahma pun melangkah keluar meninggalkan gubuk tersebut dengan hati yang hancur. Namun, kepergiannya bukan karena marah akibat diusir, melainkan karena ia sangat mengkhawatirkan nasib suaminya. Ia bingung, jika ia pergi, siapakah yang akan mengurus Nabi Ayyub Alaihisalam? Setelah seharian berjalan gelisah tanpa arah, menjelang sore rasa cinta yang besar membuat Rahma tidak tahan lagi, sehingga ia memutuskan untuk cepat-cepat kembali ke gubuk.
Begitu memasuki gubuk, Rahma seketika terkejut karena Nabi Ayyub Alaihisalam sudah tidak ada lagi di atas pembaringannya. Di tengah rasa panik dan tangis sedihnya, tiba-tiba sebuah tangan laki-laki mengelus bahunya dengan mesra dari belakang. Rahma menjerit terkejut dan menoleh. Di hadapannya berdiri seorang pria tampan, bersih, sehat, dan bertubuh harum yang wajahnya mirip dengan suaminya dahulu kala.
"Siapa kamu? Sungguh kurang ajar dirimu tidak memiliki kesopanan!" teriak Rahma dengan marah. Laki-laki itu tersenyum dan menjawab, "Aku Ayyub, suamimu."
Nabi Ayyub Alaihisalam kemudian menceritakan keajaiban yang baru saja dialaminya. Setelah Rahma pergi, beliau memanjatkan doa yang sangat masyhur kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Tak lama kemudian, Allah Subhanahu Wa Ta'ala memerintahkan beliau untuk menghentakkan kakinya ke tanah. Seketika itu juga, terpancarlah sebuah sumber mata air yang hangat dan berbau belerang. Beliau diperintahkan mandi dan minum dari air tersebut. Begitu selesai mandi, seluruh kudis dan penyakit di kulitnya rontok seketika, dan fisiknya kembali bugar seperti semula.
Betapa gembira dan bahagianya Rahma menyaksikan kesembuhan suaminya. Mereka pun berpelukan merasakan kebahagiaan yang telah lama hilang. Namun, setelah kesembuhan itu, Nabi Ayyub Alaihisalam teringat akan sumpah yang pernah diucapkannya untuk mencambuk Rahma sebanyak seratus kali. Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang Maha Pengasih kemudian memberikan jalan keluar yang bijaksana agar sumpah tersebut tetap tertunaikan tanpa harus menyakiti sang istri yang sudah berjasa besar.
Nabi Ayyub Alaihisalam diperintahkan mengambil dahan pohon yang beranting kecil (lidi) sebanyak seratus batang, lalu mengikatnya menjadi satu kesatuan. Rahma kemudian dipukul menggunakan ikatan dahan tersebut sebanyak satu kali saja dengan sangat lembut. Dengan tindakan ini, sumpah seratus kali cambukan telah lunas terbayar tanpa melukai Rahma sedikit pun.
Setelah melewati badai ujian yang sangat panjang tersebut, Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengembalikan seluruh berkah hidup mereka. Nabi Ayyub Alaihisalam dan Rahma kembali hidup makmur, dikaruniai harta yang jauh lebih melimpah, serta dianugerahi keturunan-keturunan yang saleh yang di kemudian hari ditunjuk menjadi nabi-nabi penerus yang mulia.
CATATAN TAMBAHAN: SILSILAH DAN GEOGRAFI SEJARAH NABI AYUB ALAIHI SALAM
1. SILSILAH DAN GARIS NASAB KELUARGA (SAHIH & DETAIL)
Nabi Ayub alaihi salam adalah bagian dari garis keturunan para nabi mulia (The Patriarchs) yang bersambung langsung kepada Nabi Ibrahim alaihi salam.
* Nasab Jalur Ayah:
Ayub bin Amwush (ada yang menulis Mush) bin Razah bin Al-'Ish bin Ishaq bin Ibrahim Al-Khalil alaihi salam. (Rujukan: Kitab Tarikh Ibnu Asakir & Al-Bidayah wan Nihayah).
* Jalur Ibu:
Ibu beliau adalah putri kandung dari Nabi Luth alaihi salam.
* Jalur Pernikahan (Istri):
Beliau menikah dengan Rahmah binti Afraim bin Yusuf bin Ya'qub alaihi salam. Dengan kata lain, istri Nabi Ayub alaihi salam adalah cucu langsung dari Nabi Yusuf alaihi salam.
* Keturunan yang Menjadi Nabi:
Salah satu putra beliau yang mewarisi kenabian adalah Bisyr, yang di dalam Al-Qur'an dikenal dengan nama Nabi Dzulkifli alaihi salam.
2. LOKASI GEOGRAFI MENURUT SEJARAH & AL-QUR'AN
Nabi Ayub alaihi salam tidak tinggal atau diutus di Mesir, melainkan di negeri Syam kuno.
* Tempat Tinggal, Kekayaan, & Tempat Ujian:
Beliau menetap di daerah Awadh (Uzh) yang terletak di dataran Hauran. Wilayah Hauran ini secara geografis modern berada di area perbatasan antara negara SURIAH (Syria) dan YORDANIA.
* Hubungan dengan Ayat Al-Qur'an dan Doa Kesembuhan:
Dalam QS. Al-Anbiya ayat 83, diabadikan doa ketabahan Nabi Ayub alaihi salam saat memohon kesembuhan kepada Allah subhanahu wa ta'ala:
وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّى مَسَّنِىَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ
Artinya: "Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, '(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang'."
Kemudian dalam QS. Sad ayat 42, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman memberikan jalan kesembuhan:
ٱرْكُضْ بِرِجْلِكَ ۖ هَٰذَا مُغْتَسَلٌۢ بَارِدٌ وَشَرَابٌ
Artinya: "Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum." Mata air mukjizat ini secara historis berada di kawasan Hauran tersebut.
* Situs Makam dan Petilasan Modern:
Karena faktor sejarah ribuan tahun, terdapat beberapa petilasan, namun situs makam yang paling kuat disepakati secara administratif hari ini terletak di Pegunungan Al-Qara, dekat kota Salalah, negara OMAN. (Situs sekunder berupa petilasan juga diklaim di Urfa, Turki dan Hilla, Irak).
Demikianlah kisah perjalanan spiritual Nabi Ayyub Alaihisalam dari awal mulanya diuji hingga meraih kembali kemuliaannya secara lengkap dan berurutan. Semoga kisah penuh ibrah (pelajaran) ini mampu mengetuk pintu hati kita semua agar senantiasa memiliki sifat sabar dan terus berprasangka baik kepada ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Semoga tulisan ini membawa berkah bagi kita semua. Amin Ya Rabbal Alamin. Sampai jumpa di artikel penuh hikmah berikutnya!
والله أعلمُ بالـصـواب
Postingan Berikutnya : Kisah Lengkap Nabi Syuaib alaihi salam
Baca Juga Di : Mengenang kisah Ali Bin Abi Thalib Di Medan Perang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar