Sabtu, 27 Juni 2026

Jejak Agung Nabi Musa Alaihissalam: Dari Istana Firaun hingga Misteri Kutukan Kera yang Hina

 اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Tuhan semesta alam yang telah mengutus para nabi dan rasul sebagai pelita petunjuk bagi umat manusia. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Agung Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Selamat datang di Orengmadureh.com. Artikel kali ini disusun secara mendalam untuk mengulas kembali lembaran sejarah emas salah satu nabi ulul azmi yang paling banyak dikisahkan dalam kitab suci, yaitu Nabi Musa Alaihissalam. Semoga kisah perjuangan, keteguhan, dan mukjizat beliau yang disajikan di Orengmadureh.com ini dapat menjadi sumber inspirasi, mempertebal keimanan, serta memberikan hikmah mendalam bagi kita semua yang membacanya. Selamat membaca.

Ilustrasi Visual Digital

Jejak Agung Perjuangan Nabi Musa Alaihissalam: Dari Istana Firaun Hingga Membela Kebenaran

1. Silsilah dan Garis Keturunan Nabi Musa Alaihissalam

Nabi Musa Alaihissalam lahir dari kalangan Bani Israil, yaitu keturunan Nabi Yaqub Alaihissalam yang menetap di Mesir. Silsilah garis keturunan beliau adalah:

Musa bin Imran bin Qahats bin Azir (Lawi) bin Yaqub bin Ishaq bin Ibrahim Alaihissalam.

Nabi Musa Alaihissalam memiliki seorang saudara kandung laki-laki yang berusia lebih tua bernama Harun bin Imran, yang nantinya diangkat pula oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala sebagai nabi untuk mendampingi perjuangan dakwah beliau.

2. Kelahiran dan Masa Kecil di Istana Firaun

Nabi Musa Alaihissalam lahir di masa kelam saat Mesir dipimpin oleh seorang raja yang sangat kejam dan sombong bernama Firaun. Karena adanya ramalan bahwa akan lahir seorang anak laki-laki dari Bani Israil yang akan meruntuhkan kekuasaannya, Firaun mengeluarkan undang-undang untuk menyembelih setiap bayi laki-laki yang lahir dari kalangan Bani Israil.

Ketika Musa lahir, ibundanya yang bernama Yukabad merasa sangat cemas. Allah Subhanahu Wa Ta'ala kemudian memberikan ilham untuk menyusui bayi tersebut, lalu menghanyutkannya ke Sungai Nil di dalam sebuah peti kayu. 

Hal ini diabadikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam Al-Qur'an pada Surah Al-Qashas ayat 7:

وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ أُمِّ مُوسَىٰ أَنْ أَرْضِعِيهِ ۖ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي ۖ إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ

Artinya: "Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; ‘Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan jangan (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.’"

Peti tersebut kemudian ditemukan oleh keluarga Firaun. Istri Firaun yang salehah, Asiyah, jatuh hati kepada bayi tersebut dan memohon kepada Firaun agar tidak membunuhnya dan mengangkatnya sebagai anak. Atas kuasa Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Musa menolak menyusu kepada wanita mana pun di istana, hingga akhirnya kakak perempuan Musa menawarkan ibunda kandung mereka sendiri untuk menjadi ibu susuan di dalam istana Firaun.

3. Peristiwa di Mesir dan Pelarian ke Madyan

Setelah tumbuh dewasa menjadi seorang pemuda yang kuat dan berakal cerdas, suatu hari Nabi Musa Alaihissalam melihat perkelahian antara seorang dari kalangan Bani Israil dengan seorang dari kaum Qibthi (kaum Firaun). Ketika berusaha melerai dan membela kaumnya, Nabi Musa Alaihissalam tidak sengaja memukul orang Qibthi tersebut hingga tewas.

Sadar dirinya menjadi buronan istana dan nyawanya terancam, Nabi Musa Alaihissalam berdoa memohon ampunan dan segera melarikan diri meninggalkan Mesir tanpa membawa bekal yang cukup. Beliau berjalan kaki berhari-hari menembus gurun pasir hingga tiba di negeri Madyan.

Di Madyan, beliau menolong dua orang putri yang sedang mengantre untuk memberi minum ternak mereka. Ayah dari kedua putri tersebut, yang menurut para ulama adalah Nabi Syu'aib Alaihissalam, mengagumi kejujuran dan kekuatan Nabi Musa Alaihissalam. Beliau dinikahkan dengan salah satu putrinya yang bernama Shafura dengan mahar bekerja menggembala ternak selama delapan hingga sepuluh tahun.

4. Pengangkatan Menjadi Nabi dan Penerimaan Mukjizat

Setelah memenuhi masa kerja sepuluh tahun, Nabi Musa Alaihissalam membawa istrinya melakukan perjalanan kembali menuju Mesir. Di tengah malam yang dingin di gurun, beliau melihat seberkas api di lereng Bukit Sinai (Jabal Musa). Ketika beliau mendekati api tersebut untuk mengambil suluh, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berbicara langsung kepada beliau di Lembah Thuwa yang suci.

Momen pengangkatan ini tertuang dalam Surah Thaha ayat 11-14:

فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ يَا مُوسَىٰ . إِنِّي أَنَا رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ ۖ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى . وَأَنَا اخْتَرْتُكَ فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَىٰ . إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Artinya: "Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: 'Hai Musa. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua trompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku'."

Di lembah suci inilah Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberikan dua mukjizat besar kepada Nabi Musa Alaihissalam: tongkat kayu yang bisa berubah menjadi ular besar yang lincah, serta telapak tangan yang memancarkan cahaya putih menyilaukan tanpa cacat setelah dimasukkan ke dalam jubahnya.

5. Perjuangan Dakwah Menghadapi Firaun dan Para Penyihir

Allah Subhanahu Wa Ta'ala memerintahkan Nabi Musa Alaihissalam untuk kembali ke Mesir dan berdakwah kepada Firaun agar membebaskan Bani Israil dari perbudakan. Nabi Musa Alaihissalam memohon agar saudaranya, Harun, diangkat pula menjadi nabi untuk mendampinginya karena Harun memiliki ucapan yang lebih fasih.

Perintah dakwah dengan kelembutan ini tercantum dalam Surah Thaha ayat 43-44:

اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ . فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّلهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

Artinya: "Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbiatlah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut."

Firaun menolak keras dakwah tersebut dan menantang Nabi Musa Alaihissalam bertanding melawan para penyihir istana terbaik pada hari raya. Ketika hari pertandingan tiba, para penyihir melemparkan tali dan tongkat mereka hingga nampak seperti ular-ular kecil yang merayap akibat sihir mata. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam Surah Thaha ayat 69:

وَأَلْقِ مَا فِي يَمِينِكَ تَلْقَفْ مَا صَنَعُوا ۖ إِنَّمَا صَنَعُوا كَيْدُ سَاحِرٍ ۖ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَىٰ

Artinya: "Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu hanya tipu daya penyihir (belaka). Dan tidak akan menang penyihir itu, dari mana pun ia datang."

Tongkat Nabi Musa Alaihissalam berubah menjadi ular raksasa yang nyata dan menelan habis semua ular palsu ciptaan para penyihir. Menyaksikan mukjizat yang murni tersebut, para penyihir langsung bersujud dan menyatakan beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun, meskipun Firaun mengancam akan menyalib dan memotong tangan serta kaki mereka.

Karena Firaun tetap sombong, Allah Subhanahu Wa Ta'ala menurunkan serangkaian azab peringatan kepada bangsa Mesir berupa musim kemarau panjang, banjir, hama belalang, kutu, katak, hingga air minum yang berubah menjadi darah. Setiap kali azab datang, Firaun memohon Nabi Musa Alaihissalam berdoa menghentikannya dan berjanji akan melepaskan Bani Israil, namun setiap kali azab itu hilang, Firaun selalu ingkar janji.

6. Peristiwa Penyeberangan dan Pembelahan Laut Merah

Ketika penindasan Firaun sudah di luar batas kemanusiaan, Allah Subhanahu Wa Ta'ala memerintahkan Nabi Musa Alaihissalam untuk memimpin seluruh kaum Bani Israil keluar dari Mesir secara sembunyi-sembunyi pada malam hari. Ketika Firaun mengetahui pelarian ini, ia mengumpulkan seluruh pasukan perang raksasanya untuk mengejar dan membinasakan mereka.

Pada pagi harinya, Bani Israil mendapati diri mereka terjebak. Di depan mereka terbentang Laut Merah yang luas, sementara di belakang mereka debu berterbangan akibat deru pasukan Firaun yang semakin mendekat. Di tengah kepanikan kaumnya, Nabi Musa Alaihissalam tetap tenang dan penuh keyakinan kepada pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Peristiwa menegangkan ini diabadikan dalam Surah Ash-Syu'ara ayat 61-63:

فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَىٰ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ . قَالَ كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ . فَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنِ اضْرِب بِّعَصَاكَ الْبَحْرَ ۖ فَانفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ

Artinya: "Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: 'Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul'. Musa menjawab: 'Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku'. Lalu Kami wahyukan kepada Musa: 'Pukullah lautan itu dengan tongkatmu'. Maka terbelahlah lautan itu dan ambillah tiap-tiap belahan itu seperti gunung yang besar."

Melalui jalan kering di dasar laut yang terbelah tersebut, Nabi Musa Alaihissalam dan kaumnya menyeberang dengan selamat. Ketika Firaun dan seluruh bala tentaranya telah berada tepat di tengah-tengah jalan laut tersebut, Allah Subhanahu Wa Ta'ala memerintahkan air laut untuk kembali menutup seperti sediakala, menenggelamkan Firaun dan seluruh pasukannya tanpa ada yang tersisa.

7. Fase Kehidupan di Padang Tih, Ketegaran Menghadapi Bani Israil, dan Kisah Ashabus Sabt

Setelah selamat dari kejaran Firaun, ujian berat berikutnya bagi Nabi Musa Alaihissalam justru datang dari watak kaumnya sendiri, Bani Israil, yang sangat tegar tengkuk, mudah mengeluh, dan cepat berpaling dari kebenaran.

Penyembahan Anak Sapi:

Ketika Nabi Musa Alaihissalam pergi ke Bukit Sinai selama empat puluh malam untuk menerima Kitab Taurat (hukum-hukum Allah), seorang munafik bernama Samiri menghasut Bani Israil untuk membuat dan menyembah patung anak sapi dari emas.

Pembangkangan Hari Sabtu (Kisah Ashabus Sabt):

Salah satu bentuk pembangkangan nyata yang dilakukan oleh sebagian kaum Bani Israil di masa Nabi Musa Alaihissalam adalah melanggar kesucian hari Sabtu. Allah Subhanahu Wa Ta'ala melarang mereka berburu ikan di hari Sabtu untuk menguji keimanan mereka. Namun, mereka melakukan tipu daya dengan memasang jaring di hari Jumat dan mengambil hasilnya di hari Minggu. Akibat kelancangan mencurangi syariat Allah ini, mereka dikutuk menjadi kera yang hina. 

Peristiwa ini diabadikan secara lengkap di dalam Surah Al-Baqarah ayat 65:

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

Artinya: "Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melakukan pelanggaran di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: 'Jadilah kamu kera yang hina'."

Hukuman Terlantar di Padang Tih:

Ketika Nabi Musa Alaihissalam memerintahkan mereka untuk memasuki dan membebaskan Tanah Suci (Palestina), mereka menolak karena takut melawan kaum raksasa yang mendiaminya. Mereka dengan lancang berkata kepada Nabi Musa Alaihissalam untuk pergi berperang berdua saja dengan Tuhannya. Akibat pembangkangan ini, Allah Subhanahu Wa Ta'ala menghukum Bani Israil dengan membiarkan mereka tersesat berputar-putar di Padang Tih (gurun pasir) selama empat puluh tahun.

8. Hadis-Hadis Sahih Terkait Nabi Musa Alaihissalam

Keagungan dan peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan Nabi Musa Alaihissalam juga banyak dikisahkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dalam hadis-hadis yang sahih, di antaranya:

Hadis Puasa Asyura (10 Muharram):

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata bahwa ketika Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Ketika ditanya alasannya, mereka menjawab: "Hari ini adalah hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukur." Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: "Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian." Maka beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umat Islam untuk berpuasa. (Hadis Riwayat Bukhari)

Hadis Pertemuan di Malam Isra Mi'raj:

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menceritakan pengalamannya bertemu dengan Nabi Musa Alaihissalam di langit keenam. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: "Aku melewati Musa pada malam aku di-isra-kan di dekat bukit merah, ketika ia sedang berdiri melaksanakan shalat di dalam kuburnya." (Hadis Riwayat Muslim)

Nabi Musa Alaihissalam pulalah yang menyarankan kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam untuk kembali memohon keringanan jumlah rakaat shalat wajib dari lima puluh waktu hingga menjadi lima waktu dalam sehari semalam.

Hadis Detik-Detik Akhir Hayat dan Malaikat Maut:

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: "Malaikat maut diutus kepada Musa Alaihissalam. Ketika ia datang, Musa menamparnya hingga matanya keluar (karena malaikat tersebut datang dalam wujud laki-laki asing tanpa izin). Malaikat itu kembali kepada Tuhannya dan berkata: 'Engkau mengutusku kepada seorang hamba yang tidak ingin mati'. Allah lalu mengembalikan matanya dan berfirman: 'Kembalilah dan katakan kepadanya untuk meletakkan tangannya di atas punggung seekor lembu jantan, dan bagi setiap bulu yang tertutup oleh tangannya, ia akan mendapatkan satu tahun kehidupan'. Musa bertanya: 'Wahai Tuhanku, lalu setelah itu apa?' Allah menjawab: 'Kematian'. Musa berkata: 'Maka biarlah sekarang'." (Hadis Riwayat Bukhari)

9. Akhir Hayat Nabi Musa Alaihissalam

Nabi Musa Alaihissalam wafat di Padang Tih, menyusul saudaranya, Nabi Harun Alaihissalam, yang telah wafat terlebih dahulu. Sebelum mengembuskan napas terakhirnya, Nabi Musa Alaihissalam memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala agar makamnya didekatkan ke Tanah Suci (Palestina) sejauh lemparan batu, karena beliau sangat rindu untuk bisa menginjakkan kaki di tanah berkah tersebut namun terhalang oleh hukuman kaumnya.

Beliau wafat dalam kondisi telah menunaikan seluruh amanah dakwahnya dengan sempurna, meninggalkan warisan Kitab Taurat, serta menjadi teladan abadi tentang bagaimana sebuah keteguhan iman mampu meruntuhkan tirani raksasa paling angkuh di muka bumi.

Demikianlah artikel mengenai sejarah lengkap perjalanan hidup Nabi Musa Alaihissalam, mulai dari silsilah kelahiran hingga akhir hayat beliau yang penuh rintangan. Kisah beliau mengajarkan kepada kita bahwa kebenaran mutlak akan selalu menang melawan kebatilan, selama kita memiliki keyakinan penuh kepada perlindungan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Semoga tulisan yang dipublikasikan di Orengmadureh.com ini dapat menambah wawasan keislaman dan menjadi amal jariyah yang bermanfaat bagi kita semua.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ


وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Postingan Berikutnya : Kisah Lengkap Nabi Yasa Alaihi Salam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Buka Iklan