السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. أَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي تَقَلُّبِ الأَيَّامِ وَالدُّهُورِ عِبْرَةً لِأُولِي الأَبْصَارِ، وَسُبْحَانَ مَنْ لَهُ المُلْكُ وَالْمَلَكُوتُ وَالعِزَّةُ وَالجَبَرُوتُ، يَرْفَعُ مَنْ يَشَاءُ بِعَدْلِهِ وَيَخْفِضُ مَنْ يَشَاءُ بِحِكْمَتِهِ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ الأَكْمَلَانِ الأَتَمَّانِ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، الّٰذِي جَاهَدَ فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ، وَدَعَا إِلَى القِسْطِ وَالعَدْلِ وَنَهَى عَنِ الظُّلْمِ وَالفَسَادِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ
Artinya:
"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan perputaran hari dan zaman sebagai pelajaran bagi orang-orang yang memiliki pandangan tajam. Maha Suci Zat yang memiliki kerajaan, kekuasaan, kemuliaan, dan keagungan, Yang meninggikan siapa yang Dia kehendaki dengan keadilan-Nya dan merendahkan siapa yang Dia kehendaki dengan hikmah-Nya. Shalawat serta salam yang paling sempurna dan utuh semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad, yang telah berjuang di jalan Allah dengan sebenar-benarnya perjuangan, menegakkan keadilan dan menolak kedzaliman serta kerusakan, beserta keluarga dan para sahabatnya sekalian. Adapun setelah itu,
![]() |
| Ilustrasi Visual Digital |
Selamat menikmati suasana siang yang penuh berkah bagi seluruh keluarga besar pembaca Blog Madura Indonesia (orengmadureh.com). Di bawah naungan cahaya sore yang hangat ini, doa terbaik kami panjatkan semoga Allah Subhanahu wata'ala selalu melindungi langkah kita, melapangkan jalan rezeki, dan memberikan kedamaian di setiap sudut kehidupan kita.
Melanjutkan penelusuran sejarah kebangsaan di Blog Madura Indonesia (orengmadureh.com), pada artikel sebelumnya kita telah mengulas babak kelam 1965, tragedi Lubang Buaya, hingga skenario politik yang berujung pada pelengseran Sang Proklamator, Ir. Soekarno. Pertanyaan besar berikutnya yang harus kita jawab adalah: *Bagaimana kelanjutan perjalanan bangsa setelah Bung Karno lengser? Bagaimana Soeharto membangun kekuasaannya selama 32 tahun, dan apa alasan mendasar yang membuat mahasiswa dan rakyat bergerak serentak menuntut Soeharto untuk mundur pada tahun 1998?*
Mari kita bedah alur sejarah, dinamika kekuasaan, serta alasan meletusnya Gerakan Reformasi 1998 secara runtut, faktual, dan mendalam.
Petunjuk Al-Qur'an dan Hadis Nabawi tentang Keadilan Pemimpin dan Larangan Kedzaliman
Sejarah pergantian kekuasaan memberikan pelajaran spiritual yang mendalam, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an dan Hadis:
1. Ancaman Bagi Pemimpin yang Zalim dan Mengabaikan Rakyat (QS. Asy-Syu'ara: 227)
وَسَيَعْلَمُ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْٓا اَيَّ مُنْقَلَبٍ يَّنْقَلِبُوْنَ
Artinya:
"Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali. (QS. Asy-Syu'ara: 227)
2. Kehancuran Suatu Negeri Akibat Kesombongan Kekuasaan (QS. Al-Qasas: 83)
تِلْكَ الدَّارُ الْاٰخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِيْنَ لَا يُرِيْدُوْنَ عُلُوًّا فِى الْاَرْضِ وَلَا فَسَادًاۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ
Artinya:
"Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Qasas: 83)
3. Peringatan Rasulullah terhadap Kemurkaan Rakyat (HR. Muslim)
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّوَنَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ
Artinya:
"Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka mendoakan kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah mereka yang kalian benci dan mereka membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka melaknat kalian. (HR. Muslim)
1. Lahirnya Orde Baru dan Pembangunan Berbasis Stabilitas (1967–1980-an)
Setelah mengambil alih kepemimpinan secara penuh pada tahun 1967, Presiden Soeharto mendirikan rezim yang dinamakan *Orde Baru*. Berbeda dengan Orde Lama yang berfokus pada politik revolusi luar negeri, Soeharto memfokuskan pemerintahannya pada dua pilar utama: *Stabilitas Politik* dan *Pembangunan Ekonomi*.
Beberapa kebijakan besar Orde Baru pada masa awal meliputi:
*Dwifungsi ABRI:* Penempatan perwira militer di posisi-posisi strategis sipil, mulai dari gubernur, bupati, hingga anggota DPR dan jajaran kementerian.
*Penyederhanaan Partai Politik:* Pada tahun 1973, belasan partai politik dipangkas dan difusi menjadi tiga wadah utama saja: Golkar (partai penguasa), PPP (gabungan partai Islam), dan PDI (gabungan partai nasionalis/kristen).
- *Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita):* Menggenjot sektor pertanian hingga Indonesia meraih penghargaan dari FAO atas keberhasilan Swasembada Pangan pada tahun 1984, yang membuat Soeharto dianugerahi gelar *Bapak Pembangunan*.
2. Sisi Gelap Orde Baru: Otoriterianisme dan Pengekangan Kebebasan
Di balik keberhasilan pembangunan fisik dan ekonomi, rezim Orde Baru membangun tembok kekuasaan yang sangat otoriter. Kekuasaan terpusat sepenuhnya di tangan Soeharto dan lingkaran terdekatnya selama lebih dari tiga dekade.
Bentuk-bentuk pengekangan yang dirasakan masyarakat:
- *Pembungkaman Kebebasan Pers:* Surat kabar dan media massa yang kritis terhadap kebijakan pemerintah langsung dicabut izin terbitnya (dibreidel), seperti yang dialami Majalah *Tempo*, *Editor*, dan *Detik*.
- *Penindasan Suara Kritis:* Tokoh agama, akademisi, dan mahasiswa yang berani mengkritik pemerintah ditangkap, dipenjara, atau diasingkan dari panggung publik.
- *Monopoli Politik:* Golkar selalu dimenangkan secara mutlak melalui manipulasi birokrasi dan mobilisasi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam setiap Pemilu.
3. Mengapa Mahasiswa Menuntut Soeharto Mundur ? Mengurai Alasan Gerakan Reformasi 1998
Memasuki akhir dekade 1990-an, kejenuhan rakyat terhadap kekuasaan Soeharto mencapai puncaknya. Ledakan pergerakan mahasiswa 1998 yang menuntut Soeharto turun dari kursi kepresidenan dipicu oleh beberapa alasan utama dan mendasar:
A. Maraknya Praktik KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme)
Selama puluhan tahun, kekayaan negara dan proyek-proyek strategis hanya dinikmati oleh keluarga istana (Anak-anak Soeharto/Cendana) dan para konglomerat kroni penguasa. Bisnis monopolistik keluarga presiden merajalela di berbagai sektor mulai dari jalan tol, otomotif, hingga perdagangan komoditas utama sementara rakyat kecil harus menanggung beban ekonomi yang berat.
B. Badai Krisis Moneter 1997/1998
Pada pertengahan tahun 1997, krisis finansial menghantam Asia Tenggara dan melumpuhkan ekonomi Indonesia. Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS merosot tajam dari Rp 2.500 menjadi lebih dari Rp 15.000 per Dolar. Akibatnya:
- Harga-harga bahan pokok (sembako) melambung tinggi secara tak terkendali.
- Ratusan perusahaan bangkrut dan memicu Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal di mana-mana.
- Pemerintah terpaksa mengutang kepada IMF (*International Monetary Fund*) dengan syarat-syarat ketat yang mencekik rakyat.
C. Pemaksaan Jabatan Periode Ke-7 (Sidang MPRS 1998)
Di tengah krisis ekonomi yang parah dan gelombang protes masyarakat yang meluas, MPR pada Maret 1998 tetap melantik Soeharto menjadi Presiden Republik Indonesia untuk periode ke-7 (32 tahun berkuasa). Hal ini dianggap oleh mahasiswa dan kaum intelektual sebagai bentuk kebutaan politik dan ketidakpedulian penguasa terhadap penderitaan rakyat.
D. Tragedi Trisakti dan Pelanggaran HAM
Pada 12 Mei 1998, empat mahasiswa Universitas Trisakti (Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie) tewas tertembak peluru tajam aparat saat menggelar demonstrasi damai. Gugurnya para mahasiswa ini membakar kemarahan nasional, memicu kerusuhan massa di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, serta membulatkan tekad seluruh elemen bangsa untuk mengakhiri rezim Orde Baru.
4. Detik-Detik Kejatuhan Soeharto dan Kemenangan Reformasi 1998
Melihat gedung DPR/MPR diduduki oleh puluhan ribu mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, serta terpukul oleh mundurnya 14 menteri bidang ekonomi dalam Kabinet Pembangunan VII, Soeharto akhirnya kehilangan seluruh dukungan politik dan militer.
Pada tanggal *21 Mei 1998*, bertempat di Istana Merdeka Jakarta, Presiden Soeharto secara resmi membacakan pidato pengunduran dirinya setelah 32 tahun bertakhta. Kepemimpinan nasional kemudian diserahkan kepada Wakil Presiden B.J. Habibie. Peristiwa bersejarah ini menandai berakhirnya masa Orde Baru dan dimulainya *Era Reformasi* di Indonesia.
5. Kesimpulan dan Hikmah Sejarah
Perjalanan panjang dari lahir hingga jatuhnya Orde Baru memberikan pelajaran berharga bahwa pembangunan fisik dan ekonomi tidak akan pernah kokoh jika dibangun di atas pilar otoriterianisme, ketidak adilan, dan praktik korupsi.
"Gerakan mahasiswa 1998 adalah bukti nyata bahwa ketika suara rakyat diabaikan dan keadilan diinjak-injak oleh kekuasaan yang terlampau lama, sejarah akan selalu menemukan jalannya sendiri untuk mengembalikan kedaulatan kepada rakyat.
Uraian sejarah yang utuh, jujur, dan mendalam ini dipersembahkan oleh Blog Madura Indonesia (orengmadureh.com) untuk memperluas cakrawala berpikir dan menjaga ingatan sejarah generasi muda bangsa.
وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Tidak ada komentar:
Posting Komentar