Selasa, 07 Juli 2026

Meneladani Nabi Zakaria alaihissalam : Kisah Perjuangan, Doa, dan Keteguhan Iman

 اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Selamat datang kembali para pembaca setia Orengmadureh.com. Semoga Allah subhanahu wa ta'ala senantiasa melimpahkan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya kepada kita semua dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Pada kesempatan yang penuh berkah ini, kita akan merenungi dan membedah secara mendalam, utuh, dan menyeluruh mengenai sirah atau sejarah perjalanan hidup seorang utusan Allah subhanahu wa ta'ala yang penuh dengan keteladanan, kesabaran tiada batas, serta keajaiban doa yang dikabulkan. Beliau adalah Nabi Zakaria alaihi salam.

 
Ilustrasi Visual Digital

Kisah beliau bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan sebuah madrasah kehidupan yang mengajarkan kepada kita arti sebuah harapan yang tak pernah putus kepada Allah subhanahu wa ta'ala, meskipun secara nalar manusia hal tersebut tampak mustahil. Mari kita simak bersama rentetan sejarah kehidupan beliau dari awal kelahiran hingga akhir hayatnya yang mulia.

Silsilah dan Awal Kelahiran Nabi Zakaria alaihi salam

Nabi Zakaria alaihi salam lahir dan tumbuh di kalangan Bani Israil. Beliau merupakan salah seorang nabi dan rasul yang diutus oleh Allah subhanahu wa ta'ala untuk membimbing kaumnya kembali ke jalan yang lurus setelah mereka banyak menyimpang dari ajaran Taurat. 

Untuk mengetahui garis keturunan beliau, para ulama ahli sejarah Islam telah merunut silsilah beliau yang mulia secara mendetail. Jika dihitung satu per satu, berikut adalah garis keturunan beliau yang bersambung langsung kepada nabi-nabi terdahulu:

* Zakaria

* bin Barakhya

* bin Syuwai

* bin Fan'as

* bin Azur

* bin Yahfadz

* bin Mahfadz

* bin Sulaiman

* bin Daud alaihi salam

Garis silsilah di atas menunjukkan bahwa Nabi Zakaria alaihi salam merupakan keturunan langsung dari jalur Nabi Sulaiman alaihi salam dan Nabi Daud alaihi salam, yang bersambung terus hingga ke atas sampai kepada Nabi Ibrahim alaihi salam. Keberadaan beliau di tengah kaum Bani Israil menjadikannya sebagai sosok ulama, imam besar, sekaligus rujukan utama dalam urusan agama dan peribadatan di Baitul Maqdis (Haikal).

Perjuangan Kenabian dan Kisah Pengasuh Sayyidah Maryam

Nabi Zakaria alaihi salam menghabiskan masa mudanya hingga usia senja untuk berdakwah kepada Bani Israil. Beliau memimpin ibadah di Baitul Maqdis dan menjaga kesucian tempat tersebut. Salah satu fase penting dalam kehidupan kenabian beliau adalah ketika beliau terpilih menjadi pengasuh bagi seorang wanita suci, yaitu Sayyidah Maryam binti Imran (ibunda Nabi Isa alaihi salam).

Ketika Imran wafat, tumbuhlah Maryam sebagai anak yatim. Para ulama dan rabi di Baitul Maqdis saling berebut untuk mengasuh Maryam karena kehormatan keluarga Imran. Untuk adil, mereka melakukan pengundian dengan melempar pena mereka ke sungai. Atas kehendak Allah subhanahu wa ta'ala, pena Nabi Zakaria alaihi salam tetap mengapung sementara pena yang lain tenggelam, sehingga hak pengasuhan jatuh ke tangan beliau. Hubungan ini juga sangat dekat karena istri Nabi Zakaria alaihi salam, yang bernama Isya, adalah saudara perempuan dari Hanna (ibu kandung Maryam).

Selama mengasuh Maryam di dalam Mihrab (kamar khusus ibadah di Baitul Maqdis), Nabi Zakaria alaihi salam menyaksikan sebuah karamah dan keajaiban yang luar biasa dari Allah subhanahu wa ta'ala. Setiap kali beliau masuk untuk mengantarkan makanan atau memeriksa keadaan Maryam, beliau selalu mendapati hidangan buah-buahan yang aneh di sana. Beliau menemukan buah-buahan musim dingin di saat musim panas, dan buah-buahan musim panas di saat musim dingin.

Kisah yang penuh keajaiban ini diabadikan secara detail oleh Allah subhanahu wa ta'ala di dalam Al-Qur'an pada Surat Ali 'Imran ayat 37:

فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا ۖ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِندَهَا رِزْقًا ۖ قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَا ۖ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِندِ اللهِ ۖ إِنَّ اللهَ يَرْزُقُ مَن يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya:

"Maka Tuhannya menerimanya (Maryam) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menyerahkan pengasuhannya kepada Zakaria. Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia mendapati rezeki di sisinya. Zakaria berkata: 'Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (rezeki) ini?' Maryam menjawab: 'Ia dari sisi Allah'. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.

Kesabaran dalam Penantian Keturunan dan Keajaiban Doa

Melihat keajaiban makanan yang datang dari sisi Allah subhanahu wa ta'ala kepada Maryam, seketika itu pula tumbuh keinginan yang sangat kuat di dalam hati Nabi Zakaria alaihi salam untuk memohon keturunan. Saat itu, kondisi beliau secara fisik sudah sangat tua, rambutnya telah memutih penuh uban, tulangnya telah rapuh, dan istrinya pun adalah seorang wanita yang mandul sejak masa mudanya. Secara nalar manusia, mustahil bagi mereka untuk memiliki anak.

Namun, Nabi Zakaria alaihi salam memiliki iman yang sekokoh gunung. Beliau tahu bahwa bagi Allah subhanahu wa ta'ala, tidak ada hal yang mustahil. Beliau pun berdoa dengan suara yang lembut, penuh kekhusyukan, dan ketulusan di dalam mihrabnya.

Doa Nabi Zakaria alaihi salam yang sangat menyentuh hati ini terekam dengan indah dalam Al-Qur'an Surat Maryam ayat 4-6:

قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُن بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِن وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ ۖ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا

Artinya:

"Ia berkata: 'Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku (yang mengepalai urusanku) sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi-Mu seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai'.

Selain itu, dalam Surat Al-Anbiya' ayat 89, Allah subhanahu wa ta'ala juga mengabadikan doa singkat namun padat yang dipanjatkan oleh beliau:

وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ

Artinya:

"Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: 'Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik'.

Kabar Gembira Lahirnya Nabi Yahya alaihi salam

Allah subhanahu wa ta'ala Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa hamba-Nya yang saleh. Tidak lama setelah Nabi Zakaria alaihi salam memanjatkan doa tersebut dengan penuh harap, ketika beliau masih berdiri melaksanakan shalat di dalam mihrabnya, datanglah para malaikat membawa kabar gembira yang luar biasa. Allah subhanahu wa ta'ala mengabulkan doanya dan akan menganugerahinya seorang putra yang langsung diberi nama oleh Allah subhanahu wa ta'ala, yaitu Yahya (yang kelak juga diangkat menjadi seorang nabi).

Kabar gembira ini disebutkan dalam Al-Qur'an Surat Ali 'Imran ayat 39:

فَنَادَتْهُ الْمَلَائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَىٰ مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِّنَ اللهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِّنَ الصَّالِحِينَ

Artinya:

"Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): 'Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh'.

Mendengar kabar tersebut, Nabi Zakaria alaihi salam merasa takjub dan bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi mengingat kondisi fisiknya dan istrinya. Allah subhanahu wa ta'ala menegaskan bahwa hal itu sangat mudah bagi-Nya. Sebagai tanda bahwa istrinya telah mengandung, Nabi Zakaria alaihi salam tidak dapat berbicara kepada manusia selama tiga hari tiga malam kecuali hanya menggunakan isyarat tangan, dan selama masa itu beliau memperbanyak zikir dan bertasbih kepada Allah subhanahu wa ta'ala.

Mengenai terkabulnya doa ini, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam Surat Al-Anbiya' ayat 90:

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

Artinya:

"Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.

Kehadiran Nabi Yahya alaihi salam menjadi penyejuk hati bagi Nabi Zakaria alaihi salam di masa tuanya sekaligus penerus tongkat estafet dakwah kenabian di kalangan Bani Israil. Rasa syukur yang amat mendalam senantiasa dipanjatkan oleh keluarga suci ini atas mukjizat yang agung tersebut.

Akhir Hayat Nabi Zakaria alaihi salam

Perjalanan hidup Nabi Zakaria alaihi salam ditutup dengan akhir yang sangat berat namun mulia, yaitu beliau wafat sebagai seorang syahid. Kaum Bani Israil pada masa itu terkenal sebagai kaum yang sangat keras kepala, kejam, bahkan gemar mendustakan dan membunuh para nabi yang diutus kepada mereka.

Ketegangan memuncak ketika mukjizat kelahiran Nabi Isa alaihi salam tanpa seorang ayah terjadi pada Sayyidah Maryam. Kaum Bani Israil yang dipenuhi rasa iri, dengki, dan prasangka buruk mulai menyebarkan fitnah keji. Mereka menuduh Nabi Zakaria alaihi salam telah berbuat hal yang tidak senonoh dengan Maryam, karena beliaulah satu-satunya pria yang memiliki akses keluar masuk ke dalam mihrab Maryam selama masa pengasuhan.

Fitnah keji itu menyebar dengan cepat dan membakar amarah kaum Bani Israil. Mereka berkumpul dan mengejar Nabi Zakaria alaihi salam dengan niat untuk membunuhnya. Nabi Zakaria alaihi salam berusaha menyelamatkan diri dari kejaran massa yang beringas tersebut. Beliau berlari menuju sebuah kebun di pinggiran kota. 

Atas izin Allah subhanahu wa ta'ala, ada sebuah pohon besar yang terbelah batangnya sehingga Nabi Zakaria alaihi salam bisa masuk ke dalamnya untuk bersembunyi. Namun, iblis yang terkutuk melihat kejadian itu. Iblis kemudian menarik ujung jubah atau kain baju Nabi Zakaria alaihi salam sehingga kain tersebut tetap terjepit dan menjulur keluar dari batang pohon yang telah merapat kembali.

Ketika kaum Bani Israil kehilangan jejak dan kebingungan mencari keberadaan beliau, iblis menjelma menjadi seorang manusia dan menunjukkan kain yang menjulur dari dalam pohon tersebut. Iblis menghasut mereka dengan berkata bahwa Nabi Zakaria alaihi salam bersembunyi di dalam pohon itu dengan menggunakan sihir. 

Tanpa rasa belas kasihan, kaum Bani Israil mengambil gergaji besar. Mereka memotong pohon tersebut dari bagian atas hingga ke bawah, yang mengakibatkan tubuh Nabi Zakaria alaihi salam yang berada di dalamnya ikut terbelah. Beliau wafat dalam keadaan mempertahankan kebenaran dan kesucian diri dari fitnah keji kaumnya. Beliau kembali ke hadirat Allah subhanahu wa ta'ala sebagai seorang syuhada yang agung.

Kekejaman kaum Bani Israil yang gemar membunuh para nabi ini juga ditegaskan dalam hadis sahih yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda mengenai beratnya siksaan bagi orang-orang yang membunuh nabi:

أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَجُلٌ قَتَلَهُ نَبِيٌّ أَوْ قَتَلَ نَبِيًّا

Artinya:

"Manusia yang paling keras azabnya pada hari kiamat adalah orang yang dibunuh oleh seorang nabi atau orang yang membunuh seorang nabi.

Meskipun wafat dengan cara yang sangat tragis di tangan kaumnya, nama Nabi Zakaria alaihi salam tetap abadi dan harum sebagai lambang kesabaran, keteguhan iman, serta hamba pilihan yang dicintai oleh Allah subhanahu wa ta'ala.

Kesimpulan dan Hikmah untuk Pembaca

Dari seluruh rangkaian sejarah perjalanan hidup Nabi Zakaria alaihi salam, kita dapat memetik banyak sekali mutiara hikmah yang sangat berharga untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari:

* Jangan Pernah Berputus Asa dari Rahmat Allah subhanahu wa ta'ala: Meskipun secara hitungan fisik dan logika manusia segala sesuatunya terasa mustahil (seperti kondisi beliau yang sudah tua beruban dan istrinya mandul), jika Allah subhanahu wa ta'ala sudah berkehendak, maka "Kun Fayakun" semuanya pasti terjadi.

* Keutamaan Berdoa dengan Lembut dan Khusyuk: Nabi Zakaria alaihi salam mengajarkan kita adab berdoa, yaitu memanjatkan doa dengan suara yang lirih, penuh kerendahan hati, mengakibatkan kelemahan diri di hadapan Sang Pencipta, serta menaruh harapan yang besar hanya kepada-Nya.

* Bersegera dalam Kebaikan: Allah subhanahu wa ta'ala mengabulkan doa keluarga Nabi Zakaria alaihi salam karena mereka adalah orang-orang yang selalu berlomba-lomba dalam kebaikan, rajin beribadah, dan memiliki hati yang khusyuk.

* Keteguhan Menghadapi Ujian dan Fitnah: Akhir hayat beliau yang syahid mengajarkan kita bahwa ujian keimanan bagi orang-orang saleh itu sangatlah berat, namun balasan yang menanti di akhirat kelak jauh lebih indah dan kekal abadi.

Semoga artikel sirah nabawiyah ini dapat mempertebal keimanan kita, menumbuhkan semangat kita untuk terus berdoa, serta menjadikan kita hamba-hamba yang selalu bersabar dalam menghadapi setiap ujian hidup. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca artikel ini di Orengmadureh.com. Sampai jumpa pada pembahasan sejarah islami menarik lainnya.

وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ


وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Postingan Berikutnya : Kisah Nabi Yahya alaihi salam : Keteguhan Iman Menghadapi Penguasa Zalim demi Menjaga Hukum Allah

Tidak ada komentar:

Buka Iklan