ุงูุณََّูุงู
ُ ุนََُْูููู
ْ َูุฑَุญْู
َุฉُ ุงِููู َูุจَุฑََูุงุชُُู
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Taala yang telah memberikan kita kesempatan untuk terus menelusuri hikmah perjalanan sejarah. Setelah sebelumnya kita bersama-sama menyimak kisah agung perjalanan hidup Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam di situs Orengmadureh.com, kini marilah kita melangkah lebih jauh lagi untuk menapaki sejarah yang lebih awal. Kita akan menyingkap tirai masa lalu, jauh sebelum kaki manusia pertama, Nabi Adam alaihissalam, menapak di bumi ini.
 |
| Ilustrasi Visual Digital |
Penciptaan Bumi dan Ketetapan Allah Subhanahu wa Taala
Jauh sebelum waktu manusia dihitung, Allah Subhanahu wa Taala menciptakan alam semesta dengan keagungan-Nya. Bumi, tempat kita berpijak saat ini, bukanlah kebetulan semata, melainkan sebuah mahakarya yang dipersiapkan dengan penuh presisi dan hikmah yang luar biasa. Allah Subhanahu wa Taala menciptakan bumi dengan kekuasaan-Nya yang mutlak, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam penciptaan ini. Ketika Allah Subhanahu wa Taala berkehendak atas sesuatu, Dia hanya berfirman "Kun Fayakun" (Jadilah, maka jadilah ia), maka terciptalah segala sesuatu sesuai dengan ketetapan-Nya yang tiada batas.
Di dalam Al-Qur'an, khususnya Surah Al-Baqarah, Allah Subhanahu wa Taala menegaskan bahwa Dialah yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untuk manusia.
َُูู ุงَّูุฐِู ุฎَََูู َُููู
ْ ู
َุง ِูู ุงْูุฃَุฑْุถِ ุฌَู
ِูุนًุง ุซُู
َّ ุงุณْุชََูู ุฅَِูู ุงูุณَّู
َุงุกِ َูุณََّูุงَُّูู ุณَุจْุนَ ุณَู
َุงَูุงุชٍ ََُููู ุจُِِّูู ุดَْูุกٍ ุนَِููู
ٌ
Artinya: "Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (Surah Al-Baqarah ayat 29).
Ayat ini menunjukkan bahwa bumi diciptakan dengan perencanaan yang matang, di mana seluruh isi bumi, baik sumber daya alam maupun ekosistemnya, dipersiapkan sebagai fasilitas bagi kehidupan manusia. Selain itu, Allah Subhanahu wa Taala juga menegaskan dalam Surah Fussilat bahwa bumi disiapkan dengan penuh berkah:
ُْูู ุฃَุฆَُِّููู
ْ َูุชَُْููุฑَُูู ุจِุงَّูุฐِู ุฎَََูู ุงْูุฃَุฑْุถَ ِูู َْููู
َِْูู َูุชَุฌْุนََُููู َُูู ุฃَْูุฏَุงุฏًุง ุฐََِูู ุฑَุจُّ ุงْูุนَุงَูู
َِูู. َูุฌَุนََู َِูููุง ุฑََูุงุณَِู ู
ِْู ََِْููููุง َูุจَุงุฑََู َِูููุง ََููุฏَّุฑَ َِูููุง ุฃََْููุงุชََูุง ِูู ุฃَุฑْุจَุนَุฉِ ุฃََّูุงู
ٍ ุณََูุงุกً ِููุณَّุงุฆَِِููู
Artinya: "Katakanlah: Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam. Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)-nya dalam empat masa, (sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya." (Surah Fussilat ayat 9-10).
Dalam ayat-ayat di atas, kita melihat betapa Allah Subhanahu wa Taala menyiapkan segala sesuatunya dengan kadar yang tepat. Gunung-gunung diciptakan sebagai pasak agar bumi menjadi kokoh dan tidak goncang, serta keberkahan diletakkan di atasnya agar segala jenis kehidupan dapat tumbuh dan berkembang dengan subur. Segala rezeki dan kebutuhan bagi makhluk-makhluk yang akan menghuni bumi telah diatur ukurannya jauh sebelum makhluk tersebut ada.
Hakikat Penciptaan dan Kemuliaan Nabi Adam alaihissalam
Dalam memahami bagaimana Allah Subhanahu wa Taala menciptakan makhluk-Nya, kita wajib meyakini sifat-sifat Allah yang agung. Ketika kita berbicara tentang penciptaan Nabi Adam alaihissalam, terdapat penegasan khusus yang menunjukkan betapa istimewanya posisi manusia di sisi Allah Subhanahu wa Taala dibandingkan makhluk-makhluk lainnya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya, disebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Taala menciptakan Adam dengan tangan-Nya.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
ุฎَََูู ุงَُّููู ุขุฏَู
َ ุจَِูุฏِِู
Artinya: "Allah menciptakan Adam dengan tangan-Nya." (Hadis Riwayat Al-Bukhari).
Para ulama ahli sunnah menjelaskan bahwa penyebutan "tangan" dalam ayat dan hadis di atas adalah sifat yang ditetapkan bagi Allah Subhanahu wa Taala sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk dan tanpa menanyakan "bagaimana" bentuknya secara manusiawi. Hal ini adalah bukti kehormatan yang luar biasa bagi Nabi Adam alaihissalam dan keturunannya. Jika alam semesta diciptakan melalui perintah "Kun Fayakun", maka penciptaan Nabi Adam alaihissalam mendapatkan perhatian dan sentuhan langsung dari Allah Subhanahu wa Taala. Ini memberikan pesan kepada kita bahwa manusia bukanlah sekadar makhluk biasa, melainkan makhluk yang diciptakan untuk sebuah amanah yang sangat besar dan mulia di muka bumi.
Penghuni Bumi Sebelum Nabi Adam alaihissalam dan Kerusakan yang Terjadi
Sebelum cahaya manusia hadir di muka bumi sebagai khalifah, Allah Subhanahu wa Taala telah menempatkan makhluk-makhluk lain sebagai penghuni bumi. Berdasarkan atsar dari para sahabat, di antaranya Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, bumi pernah dihuni oleh bangsa jin jauh sebelum manusia diciptakan. Mereka adalah makhluk yang diciptakan dari api yang sangat panas, memiliki akal, dan kehendak bebas sebagaimana manusia dalam memilih jalan ketaatan maupun kemaksiatan.
َََูููุฏْ ุฎَََْูููุง ุงْูุฅِْูุณَุงَู ู
ِْู ุตَْูุตَุงٍู ู
ِْู ุญَู
َุฅٍ ู
َุณٍُْููู. َูุงْูุฌَุงَّู ุฎَََْูููุงُู ู
ِْู َูุจُْู ู
ِْู َูุงุฑِ ุงูุณَّู
ُูู
ِ
Artinya: "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas." (Surah Al-Hijr ayat 26-27).
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa bangsa jin ini diberikan kesempatan oleh Allah Subhanahu wa Taala untuk mengelola bumi dalam kurun waktu yang sangat lama. Namun, dalam perjalanannya, mereka banyak yang membangkang terhadap perintah Allah Subhanahu wa Taala. Mereka terjebak dalam hawa nafsu yang tidak terkendali, sehingga terjadi perselisihan besar di antara sesama mereka. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa terjadi pertumpahan darah yang meluas dan kerusakan yang sangat parah di muka bumi akibat ketidakpatuhan mereka terhadap hukum-hukum Allah Subhanahu wa Taala. Kondisi bumi saat itu menjadi saksi bisu atas perselisihan tersebut yang sangat kelam, di mana bumi penuh dengan kekacauan dan ketidakadilan akibat ulah para penghuninya yang melampaui batas.
Kekhawatiran Malaikat dan Hikmah di Baliknya
Ketika Allah Subhanahu wa Taala berkehendak menciptakan Nabi Adam alaihissalam sebagai khalifah, para malaikat bertanya tentang hikmah penciptaan tersebut. Pertanyaan mereka bukanlah bentuk protes atau pembangkangan, melainkan permohonan penjelasan karena mereka melihat jejak kerusakan yang pernah terjadi akibat perilaku penghuni bumi terdahulu. Malaikat, melalui penglihatan mereka terhadap bumi, menyaksikan bagaimana konflik terjadi terus-menerus dan kerusakan alam yang ditimbulkan oleh makhluk-makhluk yang tidak taat kepada Allah Subhanahu wa Taala.
َูุฅِุฐْ َูุงَู ุฑَุจَُّู ِْููู
ََูุงุฆَِูุฉِ ุฅِِّูู ุฌَุงุนٌِู ِูู ุงْูุฃَุฑْุถِ ุฎََِูููุฉً َูุงُููุง ุฃَุชَุฌْุนَُู َِูููุง ู
َْู ُْููุณِุฏُ َِูููุง ََููุณُِْูู ุงูุฏِّู
َุงุกَ ََููุญُْู ُูุณَุจِّุญُ ุจِุญَู
ْุฏَِู ََُูููุฏِّุณُ ََูู َูุงَู ุฅِِّูู ุฃَุนَْูู
ُ ู
َุง َูุง ุชَุนَْูู
َُูู
Artinya: "Ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata: Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau? Allah berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Surah Al-Baqarah ayat 30).
Dalam ayat ini, malaikat menyandingkan antara tugas "khalifah" dengan potensi "kerusakan dan pertumpahan darah". Para mufasir menyebutkan bahwa malaikat mengetahui tabiat kerusakan ini karena mereka pernah melihat kehidupan di bumi sebelum masa Adam alaihissalam. Mereka khawatir bahwa makhluk baru ini pun akan memiliki kecenderungan yang sama untuk merusak tatanan bumi yang telah Allah Subhanahu wa Taala ciptakan dengan penuh keberkahan.
Penting untuk direnungkan bahwa kekhawatiran malaikat ini justru menegaskan betapa mahalnya nilai sebuah ketaatan di muka bumi. Allah Subhanahu wa Taala dengan bijaksana menjawab bahwa Dia mengetahui apa yang tidak diketahui oleh malaikat. Jawaban ini mengandung makna bahwa meskipun manusia memiliki potensi untuk berbuat salah, manusia juga diberikan potensi untuk mencapai derajat ketaatan yang setinggi-tingginya melalui iman dan ilmu. Hal ini sekaligus menjadi bukti bahwa Allah Subhanahu wa Taala telah menyiapkan generasi manusia yang akan mampu memikul amanah, menegakkan keadilan, dan memakmurkan bumi, jauh melampaui apa yang dicapai oleh penghuni bumi sebelumnya. Dengan demikian, bumi yang pernah penuh dengan pertumpahan darah akan diubah menjadi bumi yang penuh dengan cahaya tauhid dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Taala.
Pemberian Ilmu: Misi Khusus untuk Nabi Adam alaihissalam
Setelah Allah Subhanahu wa Taala menegaskan bahwa Dia mengetahui apa yang tidak diketahui oleh malaikat, maka dimulailah proses pendidikan yang luar biasa bagi Nabi Adam alaihissalam. Ini adalah momen yang membuktikan mengapa manusia terpilih sebagai khalifah, yaitu karena kemampuan mereka untuk menguasai ilmu pengetahuan. Allah Subhanahu wa Taala tidak membiarkan Nabi Adam alaihissalam tanpa bekal; sebaliknya, Allah Subhanahu wa Taala memberikan ilmu langsung kepada manusia pertama ini.
َูุนََّูู
َ ุขุฏَู
َ ุงْูุฃَุณْู
َุงุกَ ََُّูููุง ุซُู
َّ ุนَุฑَุถَُูู
ْ ุนََูู ุงْูู
ََูุงุฆَِูุฉِ ََููุงَู ุฃَْูุจِุฆُِููู ุจِุฃَุณْู
َุงุกِ َูุคَُูุงุกِ ุฅِْู ُْููุชُู
ْ ุตَุงุฏَِِููู. َูุงُููุง ุณُุจْุญَุงََูู َูุง ุนِْูู
َ ََููุง ุฅَِّูุง ู
َุง ุนََّูู
ْุชََูุง ุฅََِّูู ุฃَْูุชَ ุงْูุนَِููู
ُ ุงْูุญَِููู
ُ
Artinya: "Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar. Mereka menjawab: Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (Surah Al-Baqarah ayat 31-32).
Para ahli tafsir, seperti Ibnu Katsir, menjelaskan bahwa Allah Subhanahu wa Taala mengajarkan kepada Nabi Adam alaihissalam nama-nama segala sesuatu, termasuk nama anak cucunya, nama-nama hewan, nama-nama pepohonan, bahkan nama-nama benda mati dengan segala sifat dan kegunaannya. Ilmu ini adalah pondasi peradaban. Tanpa ilmu, mustahil manusia dapat menjadi khalifah yang mampu mengelola bumi dengan benar dan terhindar dari kerusakan sebagaimana yang dilakukan penghuni sebelumnya.
Keunggulan Ilmu di Atas Kedudukan Lainnya
Ketika Allah Subhanahu wa Taala memerintahkan malaikat untuk menyebutkan nama-nama tersebut, para malaikat mengaku tidak memiliki ilmu kecuali yang telah diajarkan oleh Allah Subhanahu wa Taala. Hal ini menunjukkan bahwa kedudukan Nabi Adam alaihissalam di hadapan malaikat bukan sekadar karena penciptaannya, melainkan karena keunggulan ilmu yang dimilikinya.
Dalam riwayat lain, Allah Subhanahu wa Taala juga mengangkat derajat orang-orang yang berilmu. Hal ini selaras dengan prinsip dasar kehidupan manusia di bumi yang diabadikan dalam Al-Qur'an:
َูุฑَْูุนِ ุงَُّููู ุงَّูุฐَِูู ุขู
َُููุง ู
ُِْููู
ْ َูุงَّูุฐَِูู ุฃُูุชُูุง ุงْูุนِْูู
َ ุฏَุฑَุฌَุงุชٍ َูุงَُّููู ุจِู
َุง ุฎְุจِูุฑٌ
Artinya: "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Surah Al-Mujadilah ayat 11).
Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam juga sangat menekankan pentingnya ilmu bagi umatnya, sebagaimana beliau bersabda:
ู
َْู ุณَََูู ุทَุฑًِููุง َْููุชَู
ِุณُ ِِููู ุนِْูู
ًุง ุณَََّูู ุงَُّููู َُูู ุจِِู ุทَุฑًِููุง ุฅَِูู ุงْูุฌََّูุฉِ
Artinya: "Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga." (Hadis Riwayat Muslim).
Proses pendidikan ini menegaskan bahwa manusia tidak diciptakan untuk menjadi makhluk yang pasif. Manusia diciptakan sebagai khalifah yang dituntut untuk terus belajar, meneliti, dan menggunakan akal budi untuk menjaga keseimbangan alam semesta. Kegagalan penghuni bumi sebelumnya dalam menjaga amanah adalah karena ketiadaan ilmu yang dibarengi dengan ketaatan. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Taala membekali Nabi Adam alaihissalam dengan ilmu agar ia memiliki pemahaman yang utuh tentang hakikat penciptaan segala sesuatu, sehingga ia mampu menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang tepat.
Dengan bekal ilmu inilah, Nabi Adam alaihissalam kemudian diperintahkan untuk menjadi pemimpin yang membawa cahaya bagi bumi yang dulu pernah kelam karena pertumpahan darah. Ilmu adalah pembeda utama antara sosok yang mampu membawa rahmat bagi alam semesta dengan sosok yang hanya akan membawa kerusakan. Inilah bukti kasih sayang Allah Subhanahu wa Taala yang Maha Sempurna kepada manusia.
Pembersihan Bumi: Siapa yang Disingkirkan dari Muka Bumi ?
Ketika Allah Subhanahu wa Taala hendak menjadikan manusia sebagai khalifah, bumi saat itu berada dalam penguasaan makhluk-makhluk yang telah melampaui batas. Untuk menjawab rasa penasaran kita mengenai siapa saja yang dibinasakan, para ahli tafsir dan sejarawan Islam merujuk pada riwayat-riwayat dari sahabat Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam, terutama Ibnu Abbas radhiyallahu anhu.
Golongan Penghuni yang Dibinasakan
Sebelum manusia, bumi dihuni oleh makhluk yang sering disebut dengan nama Al-Hinn dan Al-Binn, serta bangsa jin.
1. Golongan Al-Hinn dan Al-Binn: Banyak riwayat klasik menyebutkan bahwa sebelum bangsa jin mendominasi bumi, terdapat makhluk yang bernama Al-Hinn dan Al-Binn. Mereka adalah makhluk yang sangat kuat namun tidak memiliki iman. Mereka saling menghancurkan, berperang tanpa henti, dan merusak setiap sudut bumi.
2. Golongan Jin yang Melampaui Batas: Setelah kehancuran Al-Hinn dan Al-Binn, bangsa jin yang diciptakan dari api menjadi penguasa bumi. Namun, sebagian besar dari mereka mengikuti jejak kerusakan pendahulunya. Mereka melakukan tindakan yang sangat keji, yaitu menumpahkan darah sesamanya dan merusak tatanan alam.
Mengapa Mereka Dibinasakan ?
Allah Subhanahu wa Taala membinasakan dan menyingkirkan mereka karena mereka telah berani melanggar hukum-hukum Allah Subhanahu wa Taala di muka bumi. Allah Subhanahu wa Taala berfirman tentang hakikat kerusakan yang dibuat oleh makhluk yang tidak taat:
َูุฅِุฐَุง َِููู َُููู
ْ َูุง ุชُْูุณِุฏُูุง ِูู ุงْูุฃَุฑْุถِ َูุงُููุง ุฅَِّูู
َุง َูุญُْู ู
ُุตِْูุญَُูู. ุฃََูุง ุฅَُِّููู
ْ ُูู
ُ ุงْูู
ُْูุณِุฏَُูู ََِْูููู َูุง َูุดْุนُุฑَُูู
Artinya: "Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar." (Surah Al-Baqarah ayat 11-12).
Proses Pembersihan Bumi oleh Bala Tentara Malaikat
Karena kerusakan sudah tidak bisa lagi ditoleransi, Allah Subhanahu wa Taala memerintahkan bala tentara-Nya dari golongan malaikat untuk turun ke bumi. Pembersihan ini bukan sekadar pengusiran biasa, melainkan operasi pembersihan total.
Dalam sebuah riwayat yang masyhur, malaikat diutus untuk memerangi golongan jin yang durhaka tersebut. Mereka yang menolak untuk taat dibinasakan, sementara sebagian lainnya diusir dan dikejar hingga ke pulau-pulau terpencil di tengah samudera, ke gua-gua yang gelap, dan ke tempat-tempat yang jauh dari peradaban manusia yang akan datang. Tujuan dari tindakan ini adalah agar bumi benar-benar "bersih" dan siap menjadi tempat yang suci untuk manusia melakukan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Taala.
Allah Subhanahu wa Taala berfirman tentang betapa Dia tidak menyukai kerusakan:
َูุฅِุฐَุง ุชَََّููู ุณَุนَู ِูู ุงْูุฃَุฑْุถِ ُِْูููุณِุฏَ َِูููุง ََููุณَِْูู ุงูุฏِّู
َุงุกَ ََُِْููููู ุงْูุญَุฑْุซَ َูุงَّููุณَْู َูุงَُّููู َูุง ُูุญِุจُّ ุงَْููุณَุงุฏَ
Artinya: "Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanaman-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan." (Surah Al-Baqarah ayat 205).
Ketegasan Allah Subhanahu wa Taala terhadap golongan yang berbuat kerusakan ini adalah pelajaran bahwa bumi bukanlah tempat untuk kesewenang-wenangan. Kekuatan mereka yang dulu sangat ditakuti, akhirnya tunduk di hadapan kekuasaan Allah Subhanahu wa Taala yang mengutus pasukan malaikat untuk menegakkan kebenaran.
Setelah bumi bersih dari Al-Hinn, Al-Binn, dan jin-jin pembangkang yang telah menumpahkan darah, Allah Subhanahu wa Taala menetapkan bumi sebagai tempat yang siap untuk menerima kedatangan Nabi Adam alaihissalam. Inilah alasan mengapa malaikat bertanya, "Mengapa Engkau hendak menjadikan orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah?". Karena ingatan malaikat masih sangat lekat pada bagaimana golongan-golongan terdahulu (Al-Hinn, Al-Binn, dan Jin) telah menghancurkan bumi dengan cara yang sama.
Penghormatan Malaikat dan Ujian Kesombongan Iblis
Setelah bumi dibersihkan dari golongan Al-Hinn, Al-Binn, dan bangsa jin yang durhaka, Allah Subhanahu wa Taala menyiapkan panggung yang suci bagi khalifah baru. Nabi Adam alaihissalam, yang telah dimuliakan dengan ilmu pengetahuan, kini menempati kedudukan yang terhormat di sisi Allah Subhanahu wa Taala. Untuk menunjukkan kemuliaan ini, Allah Subhanahu wa Taala memerintahkan para malaikat yang suci untuk bersujud kepada Nabi Adam alaihissalam sebagai bentuk penghormatan (*tahiyat*), bukan penyembahan (*ibadah*).
َูุฅِุฐْ َُْูููุง ِْููู
ََูุงุฆَِูุฉِ ุงุณْุฌُุฏُูุง ِูุขุฏَู
َ َูุณَุฌَุฏُูุง ุฅَِّูุง ุฅِุจِْููุณَ ุฃَุจَู َูุงุณْุชَْูุจَุฑَ ََููุงَู ู
َِู ุงَْููุงِูุฑَِูู
Artinya: "Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir." (Surah Al-Baqarah ayat 34).
Momen ini adalah ujian bagi ketulusan ketaatan. Malaikat, yang diciptakan dari cahaya dan tidak memiliki hawa nafsu, segera patuh tanpa ragu. Namun, iblis yang selama ini bergaul bersama malaikat justru menampakkan sifat aslinya. Ia merasa lebih mulia karena ia mengukur kemuliaan berdasarkan unsur fisik, bukan berdasarkan ketetapan Allah Subhanahu wa Taala.
Kesombongan yang Membinasakan
Iblis menolak perintah Allah Subhanahu wa Taala karena ia terjebak dalam jebakan kesombongan yang sangat dalam. Ia menganggap bahwa api yang menjadi asal-usulnya lebih tinggi derajatnya daripada tanah yang merupakan asal penciptaan Nabi Adam alaihissalam.
َูุงَู ู
َุง ู
ََูุนََู ุฃََّูุง ุชَุณْุฌُุฏَ ุฅِุฐْ ุฃَู
َุฑْุชَُู َูุงَู ุฃََูุง ุฎَْูุฑٌ ู
ُِْูู ุฎََْููุชَِูู ู
ِْู َูุงุฑٍ َูุฎََْููุชَُู ู
ِْู ุทٍِูู
Artinya: "Allah berfirman: Apakah yang menghalangi kamu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu? Iblis menjawab: Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah." (Surah Al-A'raf ayat 12).
Di sini, iblis melakukan kesalahan fatal: ia membantah perintah Allah Subhanahu wa Taala dengan menggunakan logika akalnya sendiri. Ia mengabaikan bahwa kemuliaan makhluk ditentukan oleh ketaatan dan kasih sayang Allah Subhanahu wa Taala, bukan oleh asal-usul materi penciptaannya. Kesombongan ini adalah racun yang merusak seluruh amal ibadah yang pernah ia kerjakan selama ribuan tahun. Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
َูุง َูุฏْุฎُُู ุงْูุฌََّูุฉَ ู
َْู َูุงَู ِูู َْููุจِِู ู
ِุซَْูุงُู ุฐَุฑَّุฉٍ ู
ِْู ِูุจْุฑٍ
Artinya: "Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi." (Hadis Riwayat Muslim).
Konsekuensi Langsung dan Janji Permusuhan
Akibat dari keangkuhannya, Allah Subhanahu wa Taala menghinakan iblis. Ia dikeluarkan dari kedudukannya yang tinggi dan menjadi makhluk yang terkutuk selamanya. Namun, alih-alih bertaubat, iblis justru meminta umur panjang untuk menggoda keturunan Nabi Adam alaihissalam hingga hari kiamat.
َูุงَู َูุงْูุจِุทْ ู
َِْููุง َูู
َุง َُُูููู ََูู ุฃَْู ุชَุชََูุจَّุฑَ َِูููุง َูุงุฎْุฑُุฌْ ุฅََِّูู ู
َِู ุงูุตَّุงุบِุฑَِูู
Artinya: "Allah berfirman: Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina." (Surah Al-A'raf ayat 13).
Iblis berjanji akan menyesatkan manusia dari segala arah. Ia ingin membuktikan bahwa manusia tidak layak menjadi khalifah dan tidak akan sanggup menahan godaan hawa nafsu. Peristiwa ini menjadi pelajaran agung bagi kita bahwa musuh terbesar bukanlah makhluk yang berbeda rupa, melainkan sifat sombong yang bisa menjangkit ke dalam hati setiap manusia.
Bumi yang telah disucikan dari golongan Al-Hinn, Al-Binn, dan jin perusak, kini kembali diuji dengan kehadiran iblis yang akan berusaha menghasut manusia agar melakukan kerusakan yang sama dengan penghuni bumi sebelumnya. Inilah ujian keimanan kita: mampukah kita tetap setia kepada Allah Subhanahu wa Taala dan rendah hati, atau akankah kita jatuh ke dalam kesombongan iblis yang akan menyeret kita ke dalam kehancuran?
Kehidupan di Surga dan Ujian Pertama Bagi Nabi Adam alaihissalam
Setelah Allah Subhanahu wa Taala memuliakan Nabi Adam alaihissalam dan mengusir iblis yang sombong, Allah Subhanahu wa Taala menempatkan Nabi Adam alaihissalam di surga. Di tempat yang penuh kenikmatan itu, Nabi Adam alaihissalam tidak dibiarkan sendiri. Allah Subhanahu wa Taala menciptakan pasangan hidup baginya agar ia merasa tenang dan memiliki pendamping dalam menjalani kehidupan.
ََููุง ุขุฏَู
ُ ุงุณُْْูู ุฃَْูุชَ َูุฒَْูุฌَُู ุงْูุฌََّูุฉَ ََُูููุง ู
ِْู ุญَْูุซُ ุดِุฆْุชُู
َุง ََููุง ุชَْูุฑَุจَุง َูุฐِِู ุงูุดَّุฌَุฑَุฉَ َูุชََُูููุง ู
َِู ุงูุธَّุงِูู
َِูู
Artinya: "Dan Allah berfirman: Hai Adam, tempatilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim." (Surah Al-Baqarah ayat 35).
Di dalam surga, Nabi Adam alaihissalam dan Hawa diberikan kebebasan penuh untuk menikmati segala kenikmatan yang ada. Namun, ada satu batasan yang ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Taala, yaitu larangan untuk mendekati "pohon terlarang". Ini adalah ujian pertama bagi manusia untuk membuktikan ketaatan dan kesetiaan mereka kepada Rabb semesta alam.
Tipu Daya Iblis yang Terkutuk
Iblis, yang telah bersumpah untuk menyesatkan keturunan Adam alaihissalam, tidak tinggal diam. Ia menggunakan kesempatan ini untuk membalas dendam dengan membisikkan tipu daya kepada Nabi Adam alaihissalam dan Hawa. Ia menggunakan sumpah palsu dan janji-janji manis untuk menggoyahkan iman mereka.
ََููุณَْูุณَ َُููู
َุง ุงูุดَّْูุทَุงُู ُِููุจْุฏَِู َُููู
َุง ู
َุง ُููุฑَِู ุนَُْููู
َุง ู
ِْู ุณَْูุขุชِِูู
َุง ََููุงَู ู
َุง ََููุงُูู
َุง ุฑَุจُُّูู
َุง ุนَْู َูุฐِِู ุงูุดَّุฌَุฑَุฉِ ุฅَِّูุง ุฃَْู ุชََُูููุง ู
َََِْูููู ุฃَْู ุชََُูููุง ู
َِู ุงْูุฎَุงِูุฏَِูู. ََููุงุณَู
َُูู
َุง ุฅِِّูู َُููู
َุง َูู
َِู ุงَّููุงุตِุญَِูู
Artinya: "Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga). Dan dia bersumpah kepada keduanya sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua." (Surah Al-A'raf ayat 20-21).
Iblis memanfaatkan sifat alami manusia yang mencintai keabadian dan kekuasaan untuk menjebak mereka. Ini adalah taktik iblis yang selalu sama hingga saat ini: menghiasi kemaksiatan dengan kata-kata yang tampak baik dan menenangkan.
Pentingnya Mengambil Pelajaran
Peristiwa ini memberikan pelajaran mendalam bagi kita bahwa musuh manusia yang paling nyata adalah tipu daya setan. Mereka seringkali datang dengan topeng "penasihat" atau "pemberi solusi", padahal tujuan sebenarnya adalah untuk menjatuhkan manusia ke dalam kedurhakaan.
Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam juga menegaskan dalam sebuah hadis bahwa tipu daya setan itu sangat halus dan bisa masuk ke dalam diri manusia melalui pintu-pintu yang tidak disadari:
ุฅَِّู ุงูุดَّْูุทَุงَู َูุฌْุฑِู ู
َِู ุงْูุฅِْูุณَุงِู ู
َุฌْุฑَู ุงูุฏَّู
ِ
Artinya: "Sesungguhnya setan mengalir dalam diri manusia mengikuti aliran darah." (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim).
Meskipun Nabi Adam alaihissalam dan Hawa akhirnya memakan buah tersebut karena tipu daya setan, mereka segera menyadari kesalahan mereka dan memohon ampun dengan penuh penyesalan. Allah Subhanahu wa Taala, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, menerima taubat mereka. Peristiwa ini bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang manusia di muka bumi. Surga adalah tempat ujian ketaatan, dan bumi adalah tempat manusia menjalankan amanah sebagai khalifah setelah dibekali dengan ilmu dan kemampuan untuk kembali bertaubat.
Penutup
Demikianlah pemaparan mengenai bagaimana bumi dipersiapkan dengan segala keagungan-Nya sebelum menjadi tempat bersemayam bagi manusia. Semua peristiwa ini merupakan rangkaian awal dari sejarah panjang keberadaan kita di muka bumi. Setelah memahami latar belakang penciptaan tempat kita berpijak ini, mari kita menyelami lebih dalam lagi kisah sosok yang menjadi penghuni pertama bumi ini.
Untuk mengetahui kelanjutan perjalanannya, silakan lanjutkan membaca kisah agung Nabi Adam alaihissalam selengkapnya pada artikel yang telah kami tayangkan sebelumnya melalui tautan berikut:
Semoga dengan menyambungkan kembali setiap kepingan kisah ini, pemahaman kita semakin utuh dalam mengemban amanah sebagai khalifah di muka bumi.
َูุงُููู ุฃَุนَْูู
ُ ุจِุงูุตََّูุงุจِ
َูุงูุณََّูุงู
ُ ุนََُْูููู
ْ َูุฑَุญْู
َุฉُ ุงِููู َูุจَุฑََูุงุชُُู
Tidak ada komentar:
Posting Komentar