السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Tuhan semesta alam, yang telah mengutus para nabi dan rasul sebagai pelita petunjuk bagi umat manusia dari kegelapan syirik menuju cahaya tauhid yang benderang. Melalui artikel ilmiah yang disusun oleh tim redaksi Orengmadureh.com (https://orengmadureh.com) ini, kita akan menyelami lembaran sejarah yang sangat agung, penuh dengan keteladanan, pengorbanan, dan keteguhan iman yang tiada banding, yaitu sejarah kehidupan Nabiyullah Ilyas alaihi salam. Penulisan ini didasarkan sepenuhnya pada nash-nash Al-Qur'an al-Karim, kitab-kitab tafsir muktabar seperti Tafsir Ibnu Katsir, serta tarikh Islam yang sahih demi menyajikan informasi yang utuh, tepercaya, dan mendalam bagi seluruh pembaca budiman.
![]() |
| Ilustrasi Visual Digital |
SEJARAH LENGKAP DAN DETAIL NABI ILYAS ALAIHI SALAM
1. SILSILAH DAN LATAR BELAKANG NABI ILYAS ALAIHI SALAM
Nabi Ilyas alaihi salam merupakan salah satu utusan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dari kalangan Bani Israil. Beliau diutus pada masa ketika moral dan akidah kaum Bani Israil telah mengalami kemerosotan yang sangat tajam setelah wafatnya nabi-nabi terdahulu seperti Nabi Sulaiman alaihi salam. Garis keturunan beliau tersambung langsung kepada Nabi Harun alaihi salam, saudara kandung Nabi Musa alaihi salam, yang merupakan pilar utama penyebaran syariat Taurat di tanah Syam.
Para ahli sejarah dan pakar tafsir terkemuka, seperti Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya Al-Bidayah wan Nihayah, mencatat silsilah lengkap beliau secara runtut sebagai berikut:
Nabi Ilyas alaihi salam bin Yasin bin Phinehas (Fanhash) bin Eleazar (Aizar) bin Nabi Harun alaihi salam bin Imran bin Qahats bin Levi (Lawi) bin Nabi Ya'qub alaihi salam bin Nabi Ishaq alaihi salam bin Nabi Ibrahim alaihi salam.
Secara geografis, Nabi Ilyas alaihi salam diutus oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala kepada penduduk di wilayah Kerajaan Israel Utara, yang pada masa itu berpusat di kota Baalbek (sekarang termasuk wilayah Lebanon). Wilayah ini merupakan daerah yang sangat subur, namun penduduknya terjerumus ke dalam lembah kesyirikan yang sangat pekat akibat pengaruh budaya luar dan kelalaian para penguasa mereka terhadap hukum-hukum Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
2. KONDISI KAUM BANI ISRAIL DAN PENYEMBAHAN BERHALA BAAL
Setelah wafatnya para nabi terdahulu, Bani Israil terpecah menjadi beberapa kerajaan. Salah satunya adalah Kerajaan Israel Utara yang dipimpin oleh seorang raja bernama Akhab (Ahab). Raja Akhab menikahi seorang wanita kafir bernama Izabel (Jezebel), yang merupakan putri dari raja Sidon. Ratu Izabel inilah yang membawa pengaruh buruk yang sangat besar ke dalam istana dan masyarakat Bani Israil. Ia bersikap sangat otoriter dan memaksakan kepercayaan syiriknya kepada penduduk setempat.
Di bawah pengaruh Ratu Izabel, Raja Akhab membangun sebuah kuil megah di tengah kota untuk menyembah sebuah berhala besar yang dinamakan Baal. Berhala Baal ini diyakini oleh mereka sebagai dewa kesuburan, penguasa hujan, dan pembawa kemakmuran. Kaum Bani Israil yang awalnya memegang teguh syariat Nabi Musa alaihi salam mulai tergiur, menyimpang, dan mengagungkan berhala tersebut. Mereka meninggalkan ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan beralih melakukan ritual-ritual kemusyrikan di kuil-kuil Baal, yang sering kali diwarnai dengan perbuatan maksiat dan peluluhan nilai-nilai moral kemanusiaan.
3. DAKWAH NABI ILYAS ALAIHI SALAM DAN TANTANGANNYA
Melihat kesesatan yang merajalela tersebut, Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengutus Nabi Ilyas alaihi salam untuk menegakkan kalimat tauhid. Dengan penuh keberanian, beliau mendatangi Raja Akhab dan kaum Bani Israil untuk menyeru mereka agar kembali menyembah Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang Maha Esa dan meninggalkan berhala buatannya yang tidak mampu memberikan manfaat maupun mudarat sedikit pun.
Seruan dakwah Nabi Ilyas alaihi salam ini diabadikan secara abadi di dalam Al-Qur'an, tepatnya dalam Surah Ash-Shaffat ayat 123 hingga 132. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَإِنَّ إِلْيَاسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ
Artinya: Dan sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk salah seorang rasul-rasul.
إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَلَا تَتَّقُونَ
Artinya: (Ingatlah) ketika ia berkata kepada kaumnya: "Mengapa kamu tidak bertakwa ?
أَتَدْعُونَ بَعْلًا وَتَذَرُونَ أَحْسَنَ الْخَالِقِينَ
Artinya: "Patutkah kamu menyembah Baal dan kamu tinggalkan Sebaik-baik Pencipta,
اللهَ رَبَّكُمْ وَرَبَّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ
Artinya: "(yaitu) Allah Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu ?
فَكَذَّبُوهُ فَإِنَّهُمْ لَمُحْضَرُونَ
Artinya: Maka mereka mendustakannya, karena itu mereka kelak pasti didatangkan (untuk menerima siksaan),
إِلَّا عِبَادَ اللهِ الْمُخْلَصِينَ
Artinya: kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa).
وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ
Artinya: Dan Kami abadikan untuk Ilyas (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.
سَلَامٌ عَلَىٰ إِلْيَاسِينَ
Artinya: (yaitu) "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ilyas ?
إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
Artinya: Sesungguhnya Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ
Artinya: Sesungguhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman.
Selain di dalam Surah Ash-Shaffat, nama Nabi Ilyas alaihi salam juga disebutkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala di dalam Surah Al-An'am ayat 85 sebagai bagian dari hamba-hamba-Nya yang saleh:
وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَىٰ وَعِيسَىٰ وَإِلْيَاسَ ۖ كُلٌّ مِّنَ الصَّالِحِينَ
Artinya: Dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shaleh.
Mendengar dakwah yang disampaikan dengan lugas tersebut, Raja Akhab beserta pembesar kerajaan dan seluruh rakyatnya menolak dengan keras. Mereka merasa terusik karena berhala yang mereka agungkan dihina dan dianggap tidak memiliki kekuatan. Penolakan ini berujung pada kemarahan yang luar biasa dari Ratu Izabel, yang kemudian memerintahkan pasukan kerajaan untuk mengejar, menangkap, dan membunuh Nabi Ilyas alaihi salam. Demi menyelamatkan risalah dakwah, Nabi Ilyas alaihi salam terpaksa berhijrah dan bersembunyi dari kejaran pasukan berkuda kerajaan yang kejam.
4. AZAB KEMARAU PANJANG (PACEKLIK) YANG DAHSYAT
Karena pembangkangan kaum Bani Israil yang sudah melampaui batas, Nabi Ilyas alaihi salam memohon doa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala agar menurunkan tanda kekuasaan-Nya yang nyata, sebagai pelajaran atas kesombongan mereka yang menganggap Baal sebagai penguasa air dan kesuburan. Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengabulkan doa beliau dan memutuskan untuk menahan turunnya hujan di wilayah tersebut.
Azab kekeringan ini berlangsung selama tiga tahun berturut-turut. Sumber-sumber air mulai mengering, tanaman pertanian mati, hewan-hewan ternak bergelimpangan menjadi bangkai, dan bencana kelaparan serta penyakit mewabah ke seluruh penjuru kerajaan. Kehidupan kaum Bani Israil berubah drastis menjadi penderitaan yang sangat mengerikan.
Di tengah situasi paceklik yang sangat dahsyat tersebut, Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa melindungi dan menjamin rezeki Nabi Ilyas alaihi salam yang berada dalam persembunyian. Menurut beberapa riwayat tarikh, beliau bersembunyi di sebuah gua di dekat sungai kecil yang tersembunyi. Atas izin Allah Subhanahu Wa Ta'ala, burung-burung gagak diperintahkan untuk membawakan makanan berupa daging dan roti kepada beliau pada waktu pagi dan petang, sementara beliau meminum air dari sungai kecil tersebut hingga akhirnya sungai itu pun ikut mengering akibat kemarau yang berkepanjangan.
Setelah sungai tersebut kering, Allah Subhanahu Wa Ta'ala memerintahkan Nabi Ilyas alaihi salam untuk pergi ke sebuah rumah milik seorang wanita tua yang saleh dari kalangan Bani Israil yang masih menyembunyikan keimanannya. Wanita tua tersebut tinggal bersama anak laki-lakinya yang sedang sakit keras. Meskipun wanita itu hanya memiliki sedikit sekali persediaan gandum dan minyak di wadahnya yang hanya cukup untuk makan satu hari bagi dirinya dan anaknya, ia tetap menyambut Nabi Ilyas alaihi salam dengan penuh memuliakan tamu. Di sinilah mukjizat Allah Subhanahu Wa Ta'ala kembali nyata: berkat doa Nabi Ilyas alaihi salam, persediaan gandum dan minyak di wadah kecil tersebut tidak pernah habis dan terus terisi penuh selama berbulan-bulan masa kekeringan, sehingga kebutuhan pangan mereka tercukupi dengan sempurna.
5. PENGAKUAN SEMENTARA, PERTEMUAN NABI YASA ALAIHI SALAM, DAN PEMBANGKANGAN KEMBALI
Memasuki tahun ketiga kemarau panjang, kaum Bani Israil sudah tidak sanggup lagi menahan penderitaan yang ada. Mereka menyadari bahwa berhala Baal yang mereka sembah setiap hari sama sekali tidak mampu menurunkan setetes air pun dari langit atau menumbuhkan sehelai daun pun dari tanah. Dalam kondisi putus asa, mereka akhirnya mencari Nabi Ilyas alaihi salam dan memohon dengan sangat agar beliau sudi berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk menurunkan hujan. Mereka berjanji dengan sumpah yang teguh bahwa jika hujan turun dan penderitaan mereka berakhir, mereka akan menghancurkan berhala Baal dan kembali beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Mendengar janji dan pertobatan tersebut, Nabi Ilyas alaihi salam keluar dari persembunyiannya. Di masa-masa inilah, beliau bertemu dengan seorang pemuda saleh bernama Yasa bin Akhthub, yang saat itu sedang menderita sakit. Nabi Ilyas alaihi salam mendoakan kesembuhan bagi pemuda tersebut, dan atas izin Allah, Yasa langsung sembuh total. Terpikat oleh kemuliaan akhlak dan mukjizat Nabi Ilyas alaihi salam, Yasa memutuskan untuk beriman dan menyatakan diri sebagai murid setianya yang selalu mendampingi beliau dalam setiap langkah dakwah.
Nabi Ilyas alaihi salam kemudian memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala agar menurunkan hujan rahmat-Nya. Doa sang nabi dikabulkan, langit seketika dipenuhi awan hitam yang tebal, dan hujan lebat pun mengguyur bumi Baalbek. Tanah-tanah yang mati kembali hidup, sumber air kembali memancar, dan kelaparan pun perlahan sirna.
Namun, watak dasar Bani Israil yang gemar ingkar janji kembali muncul. Begitu kondisi kehidupan mereka kembali makmur, aman, dan sejahtera, janji-janji iman yang mereka ucapkan di masa paceklik langsung dilupakan begitu saja. Di bawah hasutan Ratu Izabel, mereka kembali mengagungkan kuil-kuil Baal dan menuduh bahwa hujan yang turun adalah berkat kemurahan dewa Baal, bukan karena doa Nabi Ilyas alaihi salam. Bahkan, mereka menuduh Nabi Ilyas alaihi salam sebagai penyihir yang membawa kesialan dan kembali melakukan pengejaran untuk membunuhnya bersama muridnya, Nabi Yasa alaihi salam.
6. AKHIR HAYAT / RIWAYAT KEPERGIAN NABI ILYAS ALAIHI SALAM
Menghadapi pembangkangan kaumnya yang tidak kunjung usai, Nabi Ilyas alaihi salam bersama muridnya, Nabi Yasa alaihi salam, kembali berjalan berhijrah meninggalkan kota tersebut atas perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sejarah mencatat bahwa kaum Bani Israil yang membangkang tersebut akhirnya ditimpa azab yang jauh lebih dahsyat berupa gempa bumi yang sangat kuat dan menghancurkan seluruh kota beserta kuil-kuil berhala mereka, hingga tidak ada yang tersisa dari para penyembah Baal tersebut melainkan kebinasaan.
Mengenai akhir hayat atau kepergian Nabi Ilyas alaihi salam dari dunia ini, terdapat dinamika riwayat di kalangan ulama tafsir:
A. Riwayat Israiliyat dan Keberadaannya di Langit
Dalam beberapa kitab tafsir kuno dan riwayat-riwayat atsar yang bersumber dari ahli kitab (Israiliyat), disebutkan sebuah kisah mistis bahwa ketika Nabi Ilyas alaihi salam berjalan bersama Nabi Yasa alaihi salam, tiba-tiba turun dari langit sebuah kereta berkuda yang menyala-nyala seperti api. Nabi Ilyas alaihi salam kemudian naik ke atas kereta tersebut dan diangkat oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala ke langit. Ada pula mitos-mitos lokal yang menyebutkan bahwa beliau masih hidup dan menjaga lautan, berdampingan dengan Nabi Khidir alaihi salam yang menjaga daratan.
B. Penjelasan Kritis Hadis dan Sikap Para Ulama Besar
Penting bagi kita sebagai umat Islam untuk meninjau riwayat-riwayat tersebut berdasarkan metodologi ilmu hadis yang ketat. Terdapat beberapa riwayat yang mengklaim adanya pertemuan antara Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dengan Nabi Ilyas alaihi salam pada masa kehidupan beliau, atau kisah bahwa Nabi Ilyas alaihi salam bertemu dengan para sahabat di padang pasir.
Namun, para ulama ahli hadis terkemuka dan pakar kritik sanad tingkat tinggi, seperti Imam Al-Bukhari, Imam Ibnu Al-Jauzi, dan Imam Ibnu Katsir, telah melakukan penelitian mendalam dan menegaskan dengan tegas bahwa:
SELURUH HADIS YANG MENCERITAKAN BAHWA NABI ILYAS ALAIHI SALAM MASIH HIDUP DI LANGIT ATAU DI BUMI SAAT INI BERSTATUS DHAIF (LEMAH) ATAU BAHKAN MAUDHU' (PALSU).
Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa kebenaran yang sejati dan sejalan dengan akidah Islam yang lurus adalah bahwa Nabi Ilyas alaihi salam telah wafat sebagaimana nabi-nabi Allah yang lain. Pandangan ini diperkuat secara mutlak oleh firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam Al-Qur'an Surah Al-Anbiya ayat 34:
وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ الْخُلْدَ ۖ أَفَإِن مِّتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ
Artinya: Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad); maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal ?
Berdasarkan ayat yang muhkam ini, para ulama menyimpulkan bahwa Nabi Ilyas alaihi salam telah wafat dengan tenang di suatu tempat setelah menuntaskan seluruh tugas risalah dakwahnya di muka bumi, dan tongkat estafet dakwahnya dilanjutkan dengan gemilang oleh muridnya, yaitu Nabi Yasa alaihi salam.
7. HIKMAH DAN PELAJARAN DARI KISAH NABI ILYAS ALAIHI SALAM
Kisah perjuangan Nabi Ilyas alaihi salam mengandungi sarat akan hikmah yang sangat mendalam untuk kehidupan kita di setiap zaman:
- Kemurnian Tauhid adalah Harga Mati: Dakwah utama seluruh nabi adalah memurnikan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan memerangi segala bentuk syirik modern maupun klasik.
- Kesabaran dan Keteguhan Hati: Seorang pengemban dakwah harus memiliki mental sekeras baja dalam menghadapi penolakan, intimidasi, dan ancaman dari lingkungan sekitarnya.
- Bahaya Kufur Nikmat: Kaum Bani Israil adalah contoh nyata bagaimana sebuah bangsa dihancurkan akibat tidak pandai bersyukur, gemar mengingkari janji, dan kembali berbuat maksiat setelah dilepaskan dari kesusahan.
- Kejujuran Ilmiah dalam Beragama: Kita diajarkan untuk bersikap kritis terhadap cerita-cerita khurafat dan riwayat palsu, serta selalu bersandar pada dalil yang sahih dalam memahami sejarah agama.
Demikianlah ulasan sejarah yang sangat panjang, detail, dan mendalam mengenai perjalanan hidup Nabi Ilyas alaihi salam yang dapat kami sajikan melalui situs Orengmadureh.com (https://orengmadureh.com). Semoga untaian kisah keteladanan ini mampu memperkokoh keimanan kita, mempertebal rasa syukur atas segala nikmat-Nya, serta menjauhkan diri kita dan keluarga dari segala bentuk kemusyrikan yang dapat membinasakan amal di akhirat kelak.
وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Postingan Berikutnya : Hikmah Agung di Balik Perjalanan Nabi Yunus alaihi salam : Sosok Dzun Nun yang Penuh Pelajaran

Tidak ada komentar:
Posting Komentar