Rabu, 29 Juli 2026

Sejarah Lengkap Wali Songo : Sunan Drajat (Raden Qasim) Sang Wali Pelopor Kesejahteraan Sosial dan Pengayom Kaum Dhuafa

 السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

أَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ الرَّحْمَةَ وَالْمَوَدَّةَ، وَحَثَّنَا عَلَى التَّكَافُلِ وَالإِحْسَانِ وَالْمَبَرَّةِ. أَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَكْرَمَنَا بِالإِسْلَامِ دِينًا يُرْشِدُ إِلَى الْعَدْلِ وَالْمُوَاسَاةِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَشَفِيعِ الأُمَّةِ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِي بُعِثَ لِيُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلَاقِ، وَعَلَى آلِهِ الأَطْهَارِ، وَأَصْحَابِهِ الأَخْيَارِ، الَّذِينَ كَانُوا كَالنُّجُومِ يَهْدُونَ بِهَا فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقَرَارِ، أَمَّا بَعْدُ

Artinya:

"Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan rasa kasih sayang dan kecintaan di dalam hati orang-orang beriman, serta menganjurkan kita untuk saling menanggung beban, berbuat baik, dan beramal saleh. Segala puji bagi Allah yang memuliakan kita dengan Islam, agama yang membimbing kepada keadilan dan kepedulian sosial. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi pembawa rahmat dan pemberi syafaat umat, junjungan kita Nabi Muhammad, yang diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak, dan kepada keluarganya yang suci, para sahabatnya yang terpilih, yang bagaikan bintang-bintang penunjuk jalan di kegelapan daratan dan lautan, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan hingga hari ketetapan. Adapun setelah itu,

Ilustrasi Visual Digital

Selamat pagi dan selamat datang kembali bagi para pembaca setia Blog Madura Indonesia (orengmadureh.com). Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa melimpahkan taufik, kesehatan yang afiat, kelapangan rizqi yang berkah, serta ketenangan jiwa kepada kita semua di pagi hari yang cerah dan penuh rahmat ini.

Melanjutkan epik sejarah peradaban Islam di Nusantara yang dirilis secara resmi oleh Blog Madura Indonesia (orengmadureh.com), setelah kita mengupas tuntas riwayat Sunan Gresik, Sunan Ampel, dan Sunan Bonang, kini tiba saatnya kita menelusuri jejak langkah figur wali keempat dalam jajaran Wali Songo. Beliau adalah Raden Qasim yang sangat masyhur dengan gelar kehormatan Sunan Drajat.

Berbeda dengan para wali lainnya yang banyak menititikberatkan dakwah pada ranah politik, birokrasi, maupun kesusastraan tingkat tinggi, Sunan Drajat memilih jalan sunyi yang sangat mulia, yaitu dakwah yang berfokus langsung pada pengentasan kemiskinan, kesejahteraan sosial, serta perlindungan bagi anak-anak yatim dan kaum dhuafa.

Landasan Suci Dakwah Sosial dan Kedermawanan dalam Al-Qur'an

Semangat dakwah Sunan Drajat yang selalu mengedepankan tindakan nyata dalam membantu fakir miskin sangat selaras dengan prinsip kebaikan sejati yang diajarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Hakikat kebaikan bukanlah sekadar ritual ibadah mahdhah, melainkan juga kepedulian terhadap sesama. Hal ini difirmankan dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah Ayat 177:

لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَ ۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفِى الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ

Artinya:

"Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat. (QS. Al-Baqarah: 177)

1. Latar Belakang Kelahiran dan Garis Silsilah Nasab Emas

Raden Qasim atau Sunan Drajat diperkirakan lahir pada tahun 1470 Masehi di kompleks Pesantren Ampeldenta, Surabaya. Beliau adalah putra bungsu dari pasangan Sunan Ampel (Raden Rahmat) dan Nyai Ageng Manila (Dewi Chandrawati), yang berarti beliau merupakan adik kandung langsung dari Sunan Bonang (Raden Makhdum Ibrahim).

Garis Nasab Emas Keturunan Rasulullah

Sebagai putra biologis dari Sunan Ampel, Raden Qasim secara otomatis mewarisi darah bangsawan Champa-Tuban sekaligus nasab suci keturunan Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam generasi ke-23 melalui jalur Sayyidina Husain Radhiyallahu 'Anhu. Berikut adalah urutan nasab beliau:

1. Nabi Muhammad Sallallahu 'Alaihi Wasallam

2. Sayyidatuna Fatimah Az-Zahra

3. Sayyidina Husain Radhiyallahu 'Anhu

4. Sayyid Ali Zainal Abidin

5. Sayyid Muhammad Al-Baqir

6. Sayyid Ja'far Ash-Shadiq

7. Sayyid Ali Al-Uraidhi

8. Sayyid Muhammad An-Naqib

9. Sayyid Isa Ar-Rumi

10. Sayyid Ahmad Al-Muhajir

11. Sayyid Ubaidillah

12. Sayyid Alawi

13. Sayyid Muhammad

14. Sayyid Alawi

15. Sayyid Ali Khali' Qasam

16. Sayyid Muhammad Sahib Mirbath

17. Sayyid Alawi Ammil Faqih

18. Sayyid Abdul Malik (Azmatkhan)

19. Sayyid Abdullah Azmatkhan

20. Sayyid Ahmad Shah Jalaluddin

21. Syekh Jamaluddin Akbar Jumadil Kubra

22. Syekh Ibrahim Asy-Syamarqandi

23. Raden Rahmat (Sunan Ampel)

24. Raden Qasim (Sunan Drajat)

2. Pendidikan dan Perjalanan Menuju Wilayah Dakwah Lamongan

Masa kecil hingga remaja Raden Qasim dihabiskan untuk mempelajari ilmu agama langsung di bawah bimbingan sang ayah, Sunan Ampel, di Surabaya. Beliau dikenal sebagai santri yang sangat tawadhu, pendiam, namun memiliki kepekaan sosial yang amat tajam terhadap penderitaan orang lain. Setelah dirasa cukup mumpuni, Sunan Ampel mengutus Raden Qasim untuk berdakwah ke pesisir barat Gresik, yang kini masuk dalam wilayah Kabupaten Lamongan.

Kisah Karomah Penyelamatan oleh Ikan Cucut dan Pari

Terdapat sebuah riwayat lisan yang masyhur mengenai perjalanan Raden Qasim menuju wilayah dakwahnya melalui jalur laut. Kapal yang ditumpanginya konon dihantam badai besar hingga pecah berkeping-keping. Atas izin dan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta'ala, Raden Qasim diselamatkan oleh sekawanan ikan cucut dan ikan pari yang mengangkat tubuhnya dan membawanya dengan selamat hingga mendarat di pesisir pantai Desa Banjarwati, Paciran, Lamongan. 

Sebagai bentuk rasa syukur, kelak Sunan Drajat berpesan kepada para pengikut dan keturunannya untuk tidak memburu atau mengonsumsi ikan pari, yang hingga kini masih menjadi kearifan lokal di sebagian masyarakat pesisir Lamongan.

3. Ajaran Kemanusiaan Falsafah Catur Piwulang (Pitutur Pitu)

Setelah menetap di wilayah Paciran, Raden Qasim mendirikan surau dan padepokan. Di sanalah beliau merumuskan metodologi dakwah yang sangat membumi. Sunan Drajat menyadari bahwa ajaran tauhid dan syariat akan sulit diterima oleh masyarakat yang sedang kelaparan dan hidup dalam kemiskinan. Oleh karena itu, beliau mempelopori konsep dakwah bil-hal (berdakwah melalui tindakan dan karya nyata).

Beliau mengajarkan sebuah falsafah kemanusiaan legendaris yang dikenal dengan nama Catur Piwulang (Empat Ajaran Utama) yang berbunyi:

1. Wenehana teken marang wong kang wuta

(Berikanlah tongkat kepada orang yang buta). Maknanya: Berikanlah petunjuk, ilmu, dan bimbingan kepada orang yang tidak tahu jalan kebenaran.

2. Wenehana mangan marang wong kang luwe

(Berikanlah makan kepada orang yang kelaparan). Maknanya: Jadilah dermawan, berikanlah bantuan logistik dan ekonomi kepada mereka yang miskin dan membutuhkan.

3. Wenehana busana marang wong kang wuda

(Berikanlah pakaian kepada orang yang telanjang). Maknanya: Berikanlah perlindungan, tutuplah aib sesama, dan berikan martabat kepada orang yang sedang dihinakan.

4. Wenehana payung marang wong kang kodanan

(Berikanlah payung kepada orang yang kehujanan). Maknanya: Jadilah tempat berteduh, berikanlah perlindungan dan rasa aman kepada orang yang sedang tertimpa musibah atau bencana.

Ajaran sosial ini menjadikan Sunan Drajat sangat dicintai oleh rakyat jelata. Padepokannya menjadi pusat panti asuhan tempat bernaungnya ratusan anak yatim, janda miskin, serta orang-orang sakit yang tidak memiliki tempat tinggal.

4. Media Dakwah Gamelan Singo Mengkok dan Tembang Pangkur

Sama seperti kakak kandungnya, Sunan Bonang, Sunan Drajat juga merupakan seorang seniman ulung yang menggunakan kebudayaan sebagai instrumen dakwah. Beliau menciptakan sebuah ensambel gamelan yang diberi nama Gamelan Singo Mengkok.

Nama Singo Mengkok (Singa yang Membungkuk) memiliki makna filosofis yang sangat dalam, yaitu menundukkan hawa nafsu hewaniah (singa/kebohongan/kesombongan) di dalam diri manusia agar menjadi makhluk yang beradab dan tunduk kepada Allah. Ukiran Singo Mengkok ini hingga kini masih dapat dilihat pada landasan gamelan peninggalan beliau di Museum Sunan Drajat.

Selain gamelan, Sunan Drajat juga diyakini sebagai kreator dari Tembang Macapat Pangkur. Kata Pangkur berasal dari kata mungkur yang berarti menyingkir atau membelakangi. Melalui tembang ini, Sunan Drajat mengajarkan manusia agar mulai menyingkirkan hawa nafsu duniawi dan lebih mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat kelak.

5. Gelar Sunan Drajat dan Pembangunan Desa Adat

Keberhasilan Raden Qasim dalam memakmurkan masyarakat pesisir Lamongan terdengar hingga ke Kesultanan Demak Bintoro. Sebagai bentuk apresiasi atas dedikasinya dalam mengentaskan kemiskinan dan membangun kesejahteraan sosial, Sultan Demak (Raden Patah) memberikan gelar kehormatan Sunan Drajat. 

Kata Drajat merujuk pada sebuah perbukitan bernama Ndrajat di Paciran tempat beliau membangun pusat dakwahnya, yang juga bermakna derajat atau kedudukan mulia di sisi Allah karena kerendahan hatinya melayani masyarakat bawah. Di tempat ini pula beliau mengajarkan tata cara bertani, membangun irigasi, serta mendirikan koperasi lumbung padi desa untuk mencegah bencana kelaparan.

6. Akhir Hayat, Wafat, dan Makam Bersejarah di Lamongan

Setelah menghabiskan seluruh sisa usianya untuk mengayomi kaum dhuafa, membimbing anak-anak yatim, dan menyebarkan cahaya Islam di pesisir utara Jawa, Sunan Drajat wafat pada sekitar tahun 1522 Masehi.

Beliau dimakamkan di sebuah bukit yang asri di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Saat ini, kompleks makam Sunan Drajat telah direnovasi dengan sangat indah dan dilengkapi dengan Museum Sunan Drajat yang menyimpan berbagai artefak peninggalan beliau. Makam ini menjadi salah satu destinasi ziarah religi wali songo yang selalu dipenuhi oleh jamaah yang ingin mendoakan serta mengambil teladan kedermawanan beliau.

Refleksi Hikmah dan Kata Motivasi Spiritual

Perjalanan hidup Sunan Drajat menjadi tamparan spiritual bagi manusia modern. Beliau mengajarkan bahwa ketinggian ilmu agama seseorang tidak akan bermakna jika ia tidak memiliki kepekaan terhadap rintihan perut tetangganya yang kelaparan. 

"Jangan pernah berbangga dengan panjangnya sujudmu di sepertiga malam, jika di pagi harinya engkau menutup mata dari tangisan anak yatim. Agama ini diturunkan bukan sekadar untuk membangun istana di langit, melainkan untuk menebarkan kasih sayang dan mengusap air mata mereka yang menderita di bumi.

Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam telah menegaskan dengan sangat indah esensi dari ajaran kemanusiaan ini dalam sebuah hadis:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Artinya:

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. (HR. Ahmad dan Thabrani)

Semoga ulasan sejarah yang mendalam mengenai Sunan Drajat ini mampu melembutkan hati kita dan menumbuhkan semangat kedermawanan bagi seluruh pembaca setia Blog Madura Indonesia (orengmadureh.com).

وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Tidak ada komentar:

Buka Iklan