السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
أَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي زَيَّنَ شَرِيعَتَهُ بِالْمَعْدِلَةِ وَالتَّسَامُحِ، وَأَنَارَ القُلُوبَ بِالْعِلْمِ وَالْحِكْمَةِ وَالنَّصِيحَةِ. أَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْعُلَمَاءَ وُرَثَةَ الأَنْبِيَاءِ، وَسَخَّرَهُمْ لإنْقَاذِ الْخَلْقِ مِنْ ظُلُمَاتِ الْجَهْلِ إِلَى نُورِ الاِهْتِدَاءِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الأَكْمَلَانِ الأَتَمَّانِ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ، الْمَبْعُوثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ، وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِينَ، وَأَصْحَابِهِ المُنْتَجَبِينَ الَّذِينَ جَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، أَمَّا بَعْدُ
Artinya:
"Segala puji bagi Allah yang menghiasi syariat-Nya dengan keadilan dan toleransi, serta menerangi hati manusia dengan ilmu, hikmah, dan nasihat yang baik. Segala puji bagi Allah yang menjadikan para ulama sebagai pewaris para nabi, serta menundukkan mereka untuk menyelamatkan makhluk dari kegelapan kebodohan menuju cahaya petunjuk. Shalawat serta salam yang paling sempurna dan utuh semoga tercurah kepada junjungan dan pelindung kami Nabi Muhammad, yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam, beserta keluarganya yang baik lagi suci, para sahabatnya yang terpilih yang telah berjuang di jalan Allah dengan hikmah dan pengajaran yang baik, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan hingga hari pembalasan. Adapun setelah itu,
![]() |
| Ilustrasi Visual Digital |
Selamat siang dan selamat datang kembali bagi para pembaca setia Blog Madura Indonesia (orengmadureh.com). Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa melimpahkan taufik, kesehatan yang afiat, ketenangan batin, serta kelapangan rizki yang penuh keberkahan kepada kita semua di siang hari yang penuh keberkahan ini.
Melanjutkan pencerahan sejarah keislaman Nusantara yang dirilis secara berkala oleh Blog Madura Indonesia (orengmadureh.com), setelah kita mengupas tuntas riwayat Sunan Gresik, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Giri, dan Sunan Kalijaga, pada artikel ketujuh ini kita akan mendalami rekam jejak wali yang sangat dihormati atas penguasaan ilmunya yang luas serta sikap toleransinya yang fenomenal. Beliau adalah Ja'far Shadiq yang sangat masyhur dengan gelar Sunan Kudus.
Sunan Kudus memegang peranan yang sangat unik dalam jajaran Wali Songo. Beliau dikenal sebagai seorang ulama syariat berilmu tinggi dengan julukan Wali Al-Ilmi, sekaligus seorang pimpinan militer atau Senopati Kesultanan Demak Bintoro. Namun, di balik ketegasannya sebagai panglima, beliau memiliki kebijaksanaan luar biasa dalam merangkul umat Hindu dan Buddha melalui pendekatan akulturasi budaya yang sangat indah.
Landasan Suci Dakwah Toleransi dan Kebijaksanaan
Sikap toleransi dan kelembutan dakwah yang ditunjukkan oleh Sunan Kudus kepada masyarakat yang berbeda keyakinan berlandaskan pada prinsip dasar ajaran Islam yang melarang pemaksaan agama. Hal ini selaras dengan firman Allah Subhanahu wa Ta megenai pentingnya menghormati dan tidak mencela keyakinan sesama. Sebagaimana difirmankan dalam Al-Qur'an Surah Al-An'am Ayat 108:
وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَيَسُبُّوا اللّٰهَ عَدْوًّاۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ كَذٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ اُمَّةٍ عَمَلَهُمْۖ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
Artinya:
"Dan janganlah kamu mencela sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan mencela Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah tempat kembali mereka, lalu Dia memberitahukan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan. (QS. Al-An'am: 108)
1. Latar Belakang Kelahiran dan Garis Silsilah Nasab Emas
Ja'far Shadiq atau Sunan Kudus diperkirakan lahir pada akhir abad ke-15 Masehi. Beliau merupakan putra dari Raden Usman Haji yang bergelar Sunan Ngudung (seorang panglima perang Kesultanan Demak Bintoro) dan ibundanya bernama Syarifah (adik dari Sunan Bonang).
Garis Nasab Keturunan Rasulullah
Melalui jalur ayahandanya, Sunan Ngudung, nasab Sunan Kudus bersambung langsung kepada Sayyid Ja'far Ash-Shadiq dan seterusnya hingga kepada Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam generasi ke-24 melalui jalur Sayyidina Husain Radhiyallahu 'Anhu. Berikut adalah garis urutan silsilah nasab beliau ke atas:
1. Nabi Muhammad Sallallahu 'Alaihi Wasallam
2. Sayyidatuna Fatimah Az-Zahra
3. Sayyidina Husain Radhiyallahu 'Anhu
4. Sayyid Ali Zainal Abidin
5. Sayyid Muhammad Al-Baqir
6. Sayyid Ja'far Ash-Shadiq
7. Sayyid Ali Al-Uraidhi
8. Sayyid Muhammad An-Naqib
9. Sayyid Isa Ar-Rumi
10. Sayyid Ahmad Al-Muhajir
11. Sayyid Ubaidillah
12. Sayyid Alawi
13. Sayyid Muhammad
14. Sayyid Alawi
15. Sayyid Ali Khali' Qasam
16. Sayyid Muhammad Sahib Mirbath
17. Sayyid Alawi Ammil Faqih
18. Sayyid Abdul Malik (Azmatkhan)
19. Sayyid Abdullah Azmatkhan
20. Sayyid Ahmad Shah Jalaluddin
21. Syekh Jamaluddin Akbar Jumadil Kubra
22. Syekh Ali Murtadho (Raja Pandhita)
23. Raden Usman Haji (Sunan Ngudung - Ayahanda Sunan Kudus)
24. Ja'far Shadiq (Sunan Kudus)
2. Perjalanan Menuntut Ilmu dan Julukan Wali Al-Ilmi
Sejak masa kecil, Ja'far Shadiq dididik dalam lingkungan keluarga ilmuwan dan pejuang. Beliau menimba ilmu agama langsung dari ayahandanya, Sunan Ngudung, serta dari pamannya, Sunan Bonang. Setelah menguasai ilmu-ilmu dasar di Tuban dan Ampeldenta, beliau berguru kepada Sunan Kalijaga dan Syekh Siti Jenar.
Pengembaraan Ilmu ke Negeri Baitul Maqdis (Palestina)
Untuk memperdalam ilmu syariat, fiqih, tafsir, dan hadis, Ja'far Shadiq melakukan pengembaraan ilmiah hingga ke Timur Tengah, khususnya ke kota suci Baitul Maqdis (Yerusalem, Palestina). Di sana beliau berguru kepada para ulama besar dan berhasil menguasai berbagai cabang keilmuan Islam secara mendalam.
Atas keluasan ilmunya dalam bidang fiqih, ushuluddin, tafsir, tauhid, dan hukum Islam, beliau dianugerahi julukan kehormatan oleh para anggota Wali Songo sebagai Wali Al-Ilmi (Wali pemegang puncak keilmuan syariat).
3. Peran Senopati Perang Kesultanan Demak Bintoro
Selain sebagai ulama pakar syariat, Sunan Kudus juga mewarisi ketangguhan militer dari ayahandanya. Ketika Sunan Ngudung gugur sebagai panglima perang Demak dalam pertempuran melawan Kerajaan Majapahit, posisi Senopati (Panglima Perang) Kesultanan Demak Bintoro dipercayakan kepada Sunan Kudus.
Sebagai Senopati Demak, Sunan Kudus menunjukkan kecerdasan strategi tata perang dan kepemimpinan yang sangat disegani. Beliau berhasil memperluas wilayah pengaruh Demak, menjaga stabilitas keamanan kerajaan, serta memimpin pasukan Islam dengan ketegasan yang berlandaskan keadilan dan etika perang Islami.
4. Strategi Dakwah Toleransi: Larangan Menyembelih Sapi
Setelah tidak lagi menjabat sebagai pimpinan militer Demak, Sunan Kudus memfokuskan dakwahnya di wilayah Tajug (sekarang Kota Kudus). Saat itu, mayoritas masyarakat Tajug masih memeluk agama Hindu dan Buddha. Umat Hindu sangat mengagungkan dan menyucikan hewan sapi sebagai kendaraan dewa.
Kisah Sapi yang Diikat di Halaman Masjid
Untuk menarik perhatian masyarakat Hindu tanpa menyakiti perasaan mereka, Sunan Kudus membeli seekor sapi betina yang sangat besar (Sapi Kebo Gumarang) dari pedagang asing. Sapi tersebut diikat di halaman masjid beliau. Masyarakat Hindu yang penasaran berbondong-bondong datang untuk melihat sapi yang dirawat dengan sangat baik itu.
Setelah masyarakat berkumpul, Sunan Kudus naik ke mimbar dan menyampaikan pengumuman: "Wahai masyarakatku, aku melarang kalian semua untuk menyembelih sapi di wilayah ini sebagai bentuk rasa hormat dan toleransi kita kepada saudara-saudara kita pemeluk agama Hindu."
Sebagai gantinya pada hari raya Kurban (Idul Adha), Sunan Kudus memerintahkan umat Islam untuk menyembelih hewan kerbau atau kambing. Kebijakan toleransi yang sangat menyentuh hati ini membuat masyarakat Hindu terpukau akan keluhuran budi pekerti Islam, sehingga mereka secara sukarela berbondong-bondong memeluk agama Islam.
5. Akulturasi Arsitektur Menara Kudus dan Masjid Al-Aqsha
Kebijakan dakwah toleransi Sunan Kudus tidak hanya terlihat pada tradisi kuliner kurban, melainkan juga terpahat abadi dalam bangunan fisik Masjid Agung Kudus.
Pembangunan Menara Kudus Bergaya Candi
Sunan Kudus membangun menara masjid (Menara Kudus) dengan bentuk arsitektur menyerupai candi Hindu-Buddha dari bata merah tanpa semen, lengkap dengan hiasan piringan keramik kuno. Di bagian bawah menara terdapat padasan (tempat wudhu) dengan delapan pancuran air yang diberi ukiran menyerupai patung tokoh Buddha (Arhat). Delapan pancuran ini melambangkan delapan jalan kebenaran (Asta Arya Marga) dalam ajaran Buddha, yang diadaptasi oleh Sunan Kudus untuk mengajarkan Rukun Iman dan Ihsan.
Pemberian Nama Kota Kudus dan Masjid Al-Aqsha
Sebagai kenangan atas pengembaraannya di Baitul Maqdis (Palestina), Sunan Kudus mengubah nama Desa Tajug menjadi Kota Kudus (berasal dari kata Al-Quds yang berarti Kota Suci). Beliau juga menamai masjidnya sebagai Masjid Al-Aqsha.
6. Karya Sastra Tembang Macapat Maskumambang dan Mijil
Sama seperti para wali lainnya, Sunan Kudus juga memanfaatkan kebudayaan sebagai media dakwah kesusastraan. Beliau merupakan pencipta dari dua jenis Tembang Macapat yang sangat indah, yaitu Tembang Maskumambang dan Tembang Mijil.
Filosofi Tembang Maskumambang dan Mijil
- Tembang Maskumambang: Berasal dari kata emas yang terapung-apung. Tembang ini melukiskan fase awal kehidupan manusia saat masih berupa janin di dalam kandungan ibunya, mengapung di alam rahim dengan penuh kesucian dan kepasrahan kepada Allah.
- Tembang Mijil: Berasal dari kata wijil yang berarti keluar atau lahir. Tembang ini menggambarkan fase lahirnya bayi ke dunia, mengingatkan manusia akan awal mulanya yang lemah sehingga memerlukan kasih sayang dan bimbingan ilmu keagamaan.
7. Akhir Hayat, Wafat, dan Makam Bersejarah di Kudus
Sunan Kudus menghabiskan sisa usianya dengan mengajar para santri, membina masyarakat, dan memperkuat tatanan toleransi beragama di wilayah Kudus. Beliau wafat pada tahun 1550 Masehi saat sedang imam shalat Subuh di Masjid Al-Aqsha Kudus, dalam posisi sujud terakhirnya di hadapan Allah.
Jasad beliau dimakamkan di bagian belakang kompleks Masjid Agung Menara Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Timur. Kompleks makam Sunan Kudus yang berdampingan langsung dengan Menara Kudus hingga kini menjadi salah satu destinasi ziarah spiritual paling ramai di Jawa Tengah.
Renungan Khasanah Spiritual
Perjalanan hidup Sunan Kudus memberikan pelajaran berharga bagi kehidupan bermasyarakat hingga hari ini. Beliau membuktikan bahwa kekuatan ilmu syariat yang tinggi tidak boleh membuat seseorang menjadi kaku dan kasar, melainkan harus melahirkan kedalaman toleransi, penghormatan kepada sesama, serta kerendahan hati.
"Ketinggian ilmumu tidak diukur dari seberapa keras engkau menyalahkan keyakinan orang lain, melainkan dari seberapa bijak engkau mampu merangkul hati mereka dengan kebaikan akhlakmu. Kedamaian dan toleransi adalah buah sejati dari jiwa yang telah memahami hakikat syariat.
Keluhuran toleransi ini selaras dengan sabda Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam dalam sebuah hadis:
بُعِثْتُ بِالْحَنِيْفِيَّةِ السَّمْحَةِ
Artinya:
"Aku diutus dengan membawa agama yang lurus lagi penuh dengan toleransi. (HR. Ahmad)
Semoga catatan sejarah lengkap mengenai Sunan Kudus ini memberikan pencerahan, menumbuhkan rasa toleransi, serta memperkaya wawasan spiritual bagi seluruh pembaca setia Blog Madura Indonesia (orengmadureh.com).
وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Postingan Berikutnya : Sejarah Lengkap Wali Songo : Sunan Muria (Raden Umar Said) Sang Wali Penjelajah Lereng Gunung, Pengayom Rakyat Jelata, dan Pencipta Tembang Sinom

Tidak ada komentar:
Posting Komentar